Wadul DPRD Surabaya, Mahasiswa Penerima Beasiswa Menjerit Diminta Talangi UKT
Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Akmarawita Kadir.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Keluhan mahasiswa penerima Beasiswa Pemuda Tangguh sampai ke telinga legislator di Jalan Yos Sudarso. Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Akmarawita Kadir, mewanti-wanti Pemkot Surabaya agar tidak membiarkan mahasiswa menalangi pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) yang seharusnya menjadi tanggungan pemerintah.

Mini Kidi--
Persoalan ini mencuat setelah perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri (PTN), seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Airlangga (Unair), mengadu ke Komisi D. Mereka merasa terbebani karena diminta membayar UKT terlebih dahulu sebelum dana beasiswa cair.
“Ini sangat berbahaya. Mahasiswa dari keluarga tidak mampu bisa terjerumus pinjaman online (pinjol) kalau dipaksa mencari dana talangan yang besarannya jutaan rupiah,” tegas Akmarawita.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Komisi D mendapati bahwa anggaran beasiswa tersebut memang baru bisa dicairkan sekitar Februari. Pola ini sebenarnya merupakan siklus rutin tahunan.
Namun, politisi Partai Golkar itu menegaskan bahwa keterlambatan administrasi di internal pemkot tidak boleh dibebankan kepada mahasiswa sebagai penerima manfaat.
“Kami sudah minta Disbudporapar segera menyurati kampus-kampus mitra. Isinya tegas: mahasiswa jangan diminta bayar dulu. Hak mereka jangan diganggu hanya karena masalah birokrasi,” imbuhnya.
BACA JUGA:DPRD Surabaya Desak Pemkot Tuntaskan Verifikasi 239.277 KK Program DTSEN
Ia menilai, akar masalah yang terus berulang setiap tahun ini adalah lemahnya komunikasi antara Pemkot Surabaya dengan pihak kampus. Jika rekomendasi DPRD diabaikan, Komisi D berencana akan mengundang kembali pihak-pihak terkait pada Senin (26/1) mendatang.
Di sisi lain, para mahasiswa mulai menjerit. Perwakilan mahasiswa Unesa, Gilang Ardi Pradana, mengungkapkan bahwa beban UKT di kampusnya berkisar antara Rp 2,5 juta hingga Rp 7 juta. Dengan jumlah penerima beasiswa mencapai 1.400 orang di Unesa, angka tersebut sangat fantastis jika harus ditalangi secara mandiri.
“Kalau harus mencari dana sebesar itu secara mendadak, pilihannya sangat terbatas. Ujung-ujungnya bisa ke pinjol,” keluh Gilang.
BACA JUGA:DPRD Surabaya Minta Wali Kota Tegas, Hak Warga Bale Hinggil Diutamakan dari Investor
Kondisi lebih berat dialami mahasiswa Unair. Akmal Faiz, perwakilan mahasiswa Unair, menyebut UKT di beberapa jurusan bahkan menyentuh angka Rp 15 juta. Selama ini, koordinasi justru lebih banyak dilakukan oleh internal mahasiswa ke Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) kampus, bukan dari inisiatif Disporapar.
Sumber:
