Tahun Baru, Hidup Baru: Menggenggam Luka, Melangkah Bahagia (3)
-Ilustrasi-
ANGIN tahun baru berhembus pelan menyapu wajah Bulan saat ia berdiri di depan balkon apartemennya yang baru. Di tangannya, secangkir kopi hangat, dan di hatinya, secuil damai yang perlahan mulai mengisi kekosongan yang selama ini ia rasakan. Setelah melalui berbagai badai rumah tangga, air mata perceraian, dan rasa kehilangan yang mendalam, kini ia berdiri di sini masih utuh, meski tidak lagi bersama.
“Ma, kapan kita ke taman lagi? Yang ada kelinci itu…” tanya Naya, putri semata wayangnya yang kini menjadi satu-satunya alasan Bulan untuk tetap tersenyum.

Mini Kidi--
“Besok ya, sayang. Mama juga rindu lari-lari sama kamu di sana.”
Naya tersenyum, lalu memeluk ibunya. Pelukan kecil itu lebih hangat dari secangkir kopi dan lebih menyembuhkan daripada seribu kata motivasi.
Meski hatinya pernah dihancurkan, Bulan tahu bahwa tidak semua luka harus dibenci. Beberapa luka justru membuatnya lebih kuat, lebih sadar akan dirinya sendiri. Ia belajar untuk tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Ia belajar bahwa cinta yang sehat tidak datang dari ketergantungan, melainkan dari keberanian untuk memilih diri sendiri, saat yang lain memilih pergi.
Suatu sore, mantan suaminya, Bintang, datang menjemput Naya.
“Kamu kelihatan… beda, Bulan,” ucap Bintang, ragu.
Bulan hanya tersenyum kecil. “Aku belajar mencintai hidupku lagi, meskipun kamu tidak lagi jadi bagiannya.”
Bintang menunduk. Ada getir di matanya, tapi Bulan tahu, perjalanan masing-masing sudah berbeda arah.
Setelah kepergian Bintang dan Naya, Bulan duduk di ruang tamu yang kini lebih lapang. Ia membuka jurnal barunya, halaman pertama di tahun yang baru. Di situ ia menulis:
“Aku tidak gagal, hanya selesai. Aku tidak ditinggalkan, hanya dibebaskan. Aku tidak sendiri, aku bersama luka yang sudah jadi sahabat.”
Di bawahnya, ia menggambar matahari kecil dan menuliskan satu kalimat:
Tahun Baru, Hidup Baru. Versi terbaik diriku sedang tumbuh.
Sumber:

