selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Pakar Psikologi Unesa: Puasa Ramadan Perkuat Kesehatan Mental

Pakar Psikologi Unesa: Puasa Ramadan Perkuat Kesehatan Mental

Dekan Fakultas Psikologi Unesa, Diana Rahmasari, saat ikut membagikan takjil gratis untuk mahasiswa dan warga sekitar Unesa. --

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Ibadah puasa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban spiritual bagi umat Islam. Dari sudut pandang psikologi, praktik menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga senja justru menjadi sarana efektif untuk memperkuat kesehatan mental.

Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Diana Rahmasari, dalam kegiatan edukasi kesehatan mental yang digelar saat acara buka bersama dan pembagian takjil gratis di halaman rektorat kampus.

BACA JUGA:SKH Memorandum Akan Gelar Buka Puasa Bersama Anak Yatim dan Dhuafa dalam Program Ramadan Ceria


Mini Kidi Wipes.--

Menurutnya, puasa merupakan latihan self-regulation atau kemampuan regulasi diri yang sangat komprehensif. Melalui ibadah ini, seseorang belajar menahan dorongan, mengendalikan emosi, serta mengarahkan perilaku sesuai nilai dan tujuan yang diyakini.

"Puasa adalah latihan pengendalian diri yang sangat kuat. Ketika seseorang mampu menunda dorongan lapar atau emosi, sebenarnya ia sedang melatih fungsi eksekutif otak yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian perilaku," kata Diana, pada Minggu, 8 Maret 2026.

BACA JUGA:Ide Menu Buka Puasa Hemat di Akhir Bulan yang Praktis dan Mengenyangkan untuk Keluarga

Ia menjelaskan, kemampuan tersebut berkaitan erat dengan emotional regulation, yaitu kecakapan mengelola emosi agar tetap stabil meski berada dalam situasi yang menekan. Dengan kata lain, puasa membantu seseorang tetap tenang dan adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan sehari-hari.

Selain itu, Ramadan juga menjadi momen untuk meningkatkan distress tolerance, yaitu kemampuan bertahan dalam kondisi yang tidak nyaman tanpa bereaksi secara berlebihan. Dalam praktiknya, seseorang belajar menerima rasa lapar, haus, atau lelah dengan sikap yang lebih tenang dan sadar.

"Ramadan mendorong munculnya mindfulness atau kesadaran penuh. Individu menjadi lebih reflektif terhadap dirinya sendiri sehingga mampu merespons stres secara lebih proporsional," jelas Diana. 


Gempur Rokok Ilegal.--

Diana menambahkan, manfaat puasa juga terasa pada aspek kesejahteraan psikologis secara lebih luas. Aktivitas sosial yang meningkat selama Ramadan, seperti berbagi makanan, berbuka bersama, hingga memperbanyak ibadah berjamaah, dapat memperkuat rasa kebersamaan.

"Relasi sosial yang hangat selama Ramadan meningkatkan sense of belonging atau rasa keterhubungan sosial. Dalam teori psikologi, faktor ini sangat penting untuk menekan tingkat stres," ungkapnya. 

Tak hanya dari sisi psikologi, manfaat puasa juga didukung oleh temuan di bidang neuroscience. Ia menjelaskan bahwa praktik puasa dapat memicu neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk koneksi baru antar sel saraf.

Sumber:

Berita Terkait