Hati-hati, Budaya Ngopi Bisa Picu Kecemasan Tinggi
Psikolog Untag Surabaya Dr Diah Sofiah.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Fenomena kecemasan yang dialami mahasiswa dan Generasi Z memicu diskursus publik yang serius.
Guna membedah fenomena ini dari perspektif ilmiah, psikolog Dr Diah Sofiah SPsi MSi Psikolog, memberikan penjelasan mendalam. Ia menyoroti soal anatomi kecemasan dan bagaimana gaya hidup modern turut berkelindan di dalamnya.
BACA JUGA:Akrab, Polisi Ngawi Ngopi Bareng Warga Padas

Mini Kidi--
Diah menekankan bahwa ada perbedaan mendasar antara rasa takut dan kecemasan yang sering kali disalahartikan.
Jika rasa takut memiliki objek ancaman yang jelas, maka kecemasan justru lahir dari sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak pasti. Ketidakjelasan inilah yang menurutnya menjadi beban psikologis yang lebih berat bagi individu.
BACA JUGA:Maling Motor di Tulungagung Ditangkap Saat Ngopi di Warkop
"Kecemasan sebenarnya bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik. Justru karena tidak jelas, respons emosional menjadi lebih berat,” ungkap Diah yang juga Dekan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Senin, 26 Januari 2025.
Dalam literatur psikologi, kondisi ini dipahami melalui dua kategori besar. Yakni, state anxiety yang bersifat situasional dan sementara, serta trait anxiety yang sudah menyatu dengan karakter kepribadian seseorang.
Mereka yang memiliki trait anxiety cenderung memandang lingkungan sekitar sebagai ancaman konstan, sehingga lebih rentan mengalami kecemasan dalam berbagai situasi dibandingkan orang pada umumnya.
BACA JUGA:Ngopi Bareng Tokoh Pencak Silat, Kapolsek Boyolangu Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas
Kecemasan tersebut kemudian termanifestasi dalam tiga komponen yang saling berkaitan: kognitif, fisiologis, dan perilaku.
"Secara kognitif, seseorang akan terjebak dalam pikiran obsesif dan distorsi catastrophizing atau membayangkan skenario terburuk secara berlebihan," paparnya.
"Kondisi mental ini memicu respons fisik seperti jantung berdebar dan ketegangan otot, yang pada akhirnya mendorong perilaku penghindaran terhadap sumber kecemasan tersebut," sambung Diah.
Sumber:
