Hati-hati, Budaya Ngopi Bisa Picu Kecemasan Tinggi

Hati-hati, Budaya Ngopi Bisa Picu Kecemasan Tinggi

Psikolog Untag Surabaya Dr Diah Sofiah.--

BACA JUGA:Luncurkan Program KOPLING, Polres Pasuruan Buka Ruang Curhat Warga Sembari Ngopi

Namun, Diah memberikan perspektif menarik melalui Hukum Yerkes-Dodson, di mana kecemasan ternyata memiliki fungsi adaptif. Pada tingkat yang moderat, kecemasan justru diperlukan untuk meningkatkan fokus dan kewaspadaan.

Masalah baru muncul ketika kecemasan berada pada titik ekstrem. Jika terlalu rendah, maka individu akan kehilangan motivasi. Namun jika berlebihan, hal itu justru akan melumpuhkan performa secara total.

"Salah satu tantangan terbesar dalam menangani kondisi ini adalah anxiety cycle atau siklus kecemasan. Siklus ini bermula dari pemicu yang menimbulkan ketidaknyamanan fisik, yang kemudian direspons dengan perilaku penghindaran," paparnya.

BACA JUGA:Lewat Ngopi Bareng, Ditlantas Polda Jatim Sosialisasikan Tertib Berlalulintas Operasi Zebra Semeru

Diah memperingatkan bahwa meski penghindaran memberikan kelegaan instan, dalam jangka panjang tindakan ini justru memperkuat kecemasan. Sebab, individu kehilangan kesempatan untuk belajar bahwa situasi tersebut sebenarnya bisa dihadapi.

Terkait dengan tren gaya hidup, Diah menyoroti budaya ngopi di kalangan mahasiswa yang sering kali menjadi misguided coping mechanism.

Banyak mahasiswa menjadikan kafe sebagai third place, sebuah ruang netral antara rumah dan kampus untuk mencari distraksi dan ilusi kendali.

BACA JUGA:Polres Pasuruan Ajak Wartawan Tangkal Hoaks Lewat Ngopi Bareng PIRAMIDA

Alih-alih menyelesaikan akar masalah, pola ini sering menjadi kedok untuk menghindari tuntutan akademik, yang pada akhirnya justru menumpuk kecemasan di kemudian hari.

Lebih jauh, Diah mengingatkan dampak medis dari konsumsi kafein yang berlebihan. Merujuk pada DSM-5, terdapat risiko caffeine intoxication dan caffeine withdrawal yang dapat mengganggu kesehatan mental serta kualitas tidur.

"Saya berharap, para mahasiswa tidak hanya mengenali kecemasan secara ilmiah, tetapi juga mulai meninggalkan pola perilaku nonadaptif dan beralih ke strategi koping yang lebih sehat dalam menghadapi dinamika kehidupan sehari-hari," pesannya.(bin)

Sumber: