Tamu Culas di Rumah Sendiri
-Ilustrasi-
Manusia modern merasa dirinya paling pintar, padahal ia hanya tamu culas yang numpang ngopi tapi malah membakar rumah yang ditumpanginya.
Dan di sinilah ironi itu menemukan bentuknya yang paling sunyi, ketika kita membawanya ke dalam timbangan iman.
BACA JUGA:Saat Kursi Lebih Silau dari Akhlak
Kitab suci mengingatkan kita agar tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Tuhan memperbaikinya sebuah peringatan yang juga dijabarkan Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar ketika membahas makna fasad. Manusia diutus bukan sebagai pembinasa, melainkan sebagai khalifah. Ketika kelalaian dipelihara, atau ketika musibah diam-diam disyukuri karena menghemat biaya tebang, manusia sedang mengambil jalan yang menjauhi amanah penciptaannya.
BACA JUGA:Air Mata di SPBU
Maka sebuah pertanyaan kecil yang menggelitik nurani pun hadir: akankah ada keberkahan di dalamnya?
Tentu saja jawabannya membuat kita tersenyum kecut. Harta yang diraup dari abu penderitaan orang lain, keuntungan miliaran dari cara-cara yang merusak, takkan pernah menjelma menjadi ketenangan. Kitab-kitab kuning pesantren kerap mengingatkan tentang bahayanya mal al-haram. Itu semua hanyalah istidraj pemberian melimpah yang membuat pemiliknya merasa hebat, padahal perlahan-lahan sedang diseret menuju kebinasaan batin yang sunyi.
BACA JUGA:Surat untuk Ibu
Kelak, di hadapan pengadilan kebenaran yang paling senyap, izin konsesi takkan lagi berguna. Setiap jengkal tanah yang hangus akan menagih kesaksiannya sendiri, meninggalkan tumpukan laba yang menjelma bara bagi siapa saja yang merampas hidup dari abu. (*)
Catatan Akhir Pekan KH A Nawawi Maksum: Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa, Bondowoso
Sumber:









