Data Manis, Bondowoso Menangis
ilustrasi--a
BACA JUGA: Gempita Horeg: Pesta Rakyat atau Derita Warga
Melihat gelagat itu, Pak Sutik sering menggelengkan kepala dalam diam, menyadari bahwa piagam penghargaan tidak bisa digoreng untuk sarapan pagi, dan piala birokratis tidak serta-merta menurunkan harga kebutuhan pokok di warung tetangga.
Inilah wujud nyata dari kebijakan yang berpihak secara data, namun mandul secara dampak.
Lebih jauh, bermegah di atas statistik semu adalah bentuk pengkhianatan (alkhiyanah). Merujuk Mughni al-Muhtaj karya Imam Al-Syirbini, mendistorsi data publik merupakan kezaliman sistemik yang diharamkan karena memicu mudarat massal (dharar 'am). Ketika angka pertumbuhan disulap menjadi topeng kemakmuran sementara perut rakyat berkeroncongan, di situlah legitimasi moral penguasa runtuh sepenuhnya.
BACA JUGA:Saat Kursi Lebih Silau dari Akhlak
Beda halnya dengan inisiatif yang wujudnya benar-benar nyata seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Betapapun sebagian kalangan memperdebatkan tata kelolanya, program sosial yang langsung menyasar piring makan anak-anak sekolah ini memiliki keunggulan mutlak yang dirindukan daerah: ada piringnya, ada lauknya, dan ada anak-anak yang makan dengan lahap, bukan sekadar deretan angka hampa di dalam slide PowerPoint para pejabat.
BACA JUGA:Menata Ulang Nakhoda NU di Tengah Tantangan Abad Kedua
Pertanyaan mendasarnya kemudian: di mana sebenarnya posisi puluhan triliun rupiah ekonomi Bondowoso itu, dan siapa penikmat sejatinya?
Pertanyaan kritis ini sayangnya sering kali hanya berhenti di ruang-ruang diskusi warung kopi. Menariknya, ketika realitas ekonomi ini dikritisi, selalu ada kelompok yang pasang badan membela pemerintah mati-matian.
BACA JUGA: Menolak Risywah Politik: Menyelamatkan dari Cengkeraman Makelar Suara
Publik kerap disuguhi dua pemandangan kontras: mereka yang membela karena memang menikmati kue kekuasaan dan cipratan proyek, atau yang jauh lebih menyedihkan mereka yang membela semata-mata demi menutupi rasa malu dan kekecewaan mendalam akibat salah menjatuhkan pilihan politik di masa lalu. Gengsi untuk mengakui kenyataan membuat mereka terpaksa membenarkan keadaan, meski perut di rumah tetap keroncongan.

Gempur Rokok Illegal--
Menjelang senja, matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, menyisakan bias jingga di atas ladang.
Tanpa perlu tahu angka pertumbuhan lima koma delapan tiga persen pun, Pak Sutik dan ratusan ribu warga di sudut-sudut desa ini tahu satu kebenaran purba: meskipun pemerintah abai dan data berkhianat, orang desa akan tetap hidup dan bertahan dengan keringat serta ketabahannya sendiri.
Sumber:








