selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Langkah Sunyi Belinda Andyana, Menjemput Hidayah Melalui Undangan Sang Pencipta

Langkah Sunyi Belinda Andyana, Menjemput Hidayah Melalui Undangan Sang Pencipta

Belinda Andyana (tengah, berhijab merah muda) saat mengajar anak- anak Paud bersama komunitas FPPI Kota Surabaya di Rumah Baca Tante Dientje.-Ali Muchtar-

BACA JUGA:Perjalanan Bobby Lubis Temukan Rumah di Dalam Islam, Saat Cinta Membuka Pintu Langit

Meski demikian, adaptasi teknis dalam menjalankan syariat tetap menjadi tantangan tersendiri bagi Belinda. Ia mengenang masa-masa awal belajar shalat dengan senyuman kecil.

BACA JUGA:Ikhtiar Icha Yustin Kwandou Mendalami Makna Tauhid, Antara Restu Ibu dan Panggilan Kalbu

Tantangan terbesar muncul saat ia harus menunaikan ibadah di luar rumah. Demi menjaga kelancaran ibadahnya, Belinda harus membawa sajadah khusus yang ditempeli catatan kecil berisi doa-doa shalat sederhana beserta urutannya.

BACA JUGA:Perjalanan Sunyi Andik Mencari Kebenaran Iman, Gagal Jadi Pastor Malah Temukan Islam

Sajadah "contekan" itulah yang menjadi saksi bisu perjuangannya dalam berkomunikasi dengan Tuhan di masa awal mualaf. Dalam perjalanan spiritual ini, Belinda memang tidak memiliki guru spiritual khusus yang membimbingnya secara intensif.

BACA JUGA:Kisah Sejuk Liana Wardani, Islam dan Meja Makan Lintas Iman

Namun, ia tidak pernah merasa sendirian. Kekuatan terbesarnya justru datang dari dukungan luar biasa sang ibunda. Meski mereka berbeda keyakinan, sang ibu menjadi penyokong utama yang memberikan energi bagi Belinda untuk tetap teguh pada pilihannya.

BACA JUGA:Perjalanan Iman dan Toleransi Tanjaya, Cahaya Hati di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya

Walaupun kini sang ibunda telah tiada, semangat yang pernah diberikan tetap menjadi bahan bakar utama bagi Belinda untuk tetap istikamah.

BACA JUGA:Labuhan Terakhir Ismail, Dari Taiwan Menjemput Cahaya Islam di Sidoarjo

Ramadan sendiri sebenarnya bukan hal asing bagi Belinda, mengingat ia tumbuh di lingkungan mayoritas Muslim. Namun, menjalaninya sebagai sebuah kewajiban memberikan sensasi yang sangat berbeda. 

BACA JUGA:Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh

Ia mengakui bahwa rasa haus yang melanda di tengah aktivitas adalah tantangan terberatnya. Di sisi lain, ada keceriaan sederhana yang kini ia rasakan setiap sore.

"Sekarang bisa ikut beli takjil tanpa rasa canggung lagi," selorohnya ringan, menggambarkan rasa percaya diri yang kini ia miliki saat berbaur dengan umat Muslim lainnya di pasar kaget menjelang berbuka.

Sumber:

Berita Terkait