Mengenal Asal Usul Upacara Adat Kasada

Mengenal Asal Usul Upacara Adat Kasada

Probolinggo, Memorandum.co.id - Kasada bermakna kesepuluh, yang merujuk pada bulan pelaksanaan upacara tersebut yakni bulan kesepuluh pada kalender Jawa, tepatnya pada tanggal 14. Upacara adat Kasada diikuti oleh umat Hindu Suku Tengger.

Inti dari upacara ini adalah berdoa dan pemberian sesaji atau persembahan hasil bumi ke dalam kawah Gunung Bromo di Jawa Timur.

Upacara adat ini bertempat di Pura Luhur Poten. Prosesi upacara diawali dengan pementasan tarian tradisional kisah Roro Anteng dan Joko Seger.

Setelah itu dilaksanakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat. Dukun yang terpilih memimpin rombongan menuju ke puncak Bromo dengan membawa banyak sesaji. Hasil bumi itu kemudian dilempar ke dalam kawah.

Adapun asal-usul upacara Kasada bermula dari kisah Rara Anteng dan Joko Seger yang tidak kunjung dikaruniai anak. Mereka lalu bersemedi, memohon supaya dikaruniai anak.

Akhirnya permintaan mereka dikabulkan dengan munculnya suara gaib yang mengatakan bahwa mereka akan memiliki keturunan tetapi anak bungsu mereka harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo setelah lahir.

Mereka lalu dikaruniai 25 anak. Tiba saatnya mereka harus mengorbankan anak bungsu mereka. Namun, sebagai orang tua, mereka tidak tega mengorbankan anak mereka.

Dewa pun marah, Gunung Bromo pun menyemburkan api yang menjilat anak bungsu tersebut masuk ke dalam kawah gunung.

Lalu terdengar suara gaib yang berpesan agar orang tua beserta saudara-saudaranya hidup tenang, tenteram dan damai. Suara tersebut juga memberi pesan bahwa setiap tanggal 14 pada bulan kesepuluh, harus memberikan sesaji atau persembahan berupa hasil bumi ke kawah Gunung Bromo. (*/Rdh)

Sumber: