Komisi D DPRD Surabaya Pertanyakan Pelayanan Kesehatan 24 Jam di Puskesmas

Komisi D DPRD Surabaya Pertanyakan Pelayanan Kesehatan 24 Jam di Puskesmas

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi'i ketika melakukan sidak untuk memastikan layanan Puskesmas.--

SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID - Komisi D DPRD Kota Surabaya mempertanyakan komitmen Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya terkait pelayanan Kesehatan 24 jam di sejumlah Puskesmas. Hal ini menyusul inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan di tiga Puskesmas, yakni Sidotopo Wetan, Peneleh, dan Ketabang, yang menunjukkan kenyataan berbeda dengan pernyataan Dinkes.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi'i, mengungkapkan hasil sidak yang dilakukan pada Selasa malam bahwa ketiga Puskesmas tersebut ditemukan tutup sebelum pukul 24.00, meskipun Dinkes Surabaya sebelumnya telah berkomitmen untuk mengoptimalkan 63 Puskesmas agar beroperasi 24 jam.

BACA JUGA:Ketua Komisi A DPRD Surabaya Soroti Rencana Utang Pemkot: Prioritaskan Kebutuhan Warga!


Mini Kidi--

"Kami temukan pintu pagar ditutup dan lampu dimatikan sebelum jam 12 malam. Meskipun ada dokter dan tenaga medis yang piket, mereka tertidur saat kami datang," ungkap Imam. 

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa Puskesmas Sidotopo Wetan yang disebut-sebut sebagai puskesmas terbaik di Surabaya ternyata minim tenaga medis hingga sopir ambulans merangkap sebagai petugas penerima pasien. Ruang UGD kurang memenuhi standar, seperti tabung oksigen terbuka dan ketiadaan masker oksigen.

Tak hanya Puskesmas Sidotopo, mantan Jurnalis ini juga menyambangi Puskesmas Peneleh. Di sana menemukan pagar dalam kondisi terkunci saat malam hari. Imam mengaku sempat mengetuk pagar berkali kali sebelum akhirnya dibuka. 

BACA JUGA:Anggota Komisi B DPRD Surabaya Minta Pengawasan Ketat Hiburan Malam Selama Ramadan

"Kalau memang niat buka 24 jam kenapa pintu harus digembok," ujarnya. 

Keadaan serupa juga ditemukan di Puskesmas Ketabang yang masih dalam satu kawasan Balai Kota Surabaya. Gedung yang baru direnovasi dan menelan anggaran 5 miliar itu pagar tertutup dan tidak ada dokter jaga. 

"Katanya dokter on call tapi kalau 24 jam harus ada dokter yang standby, " tegas Imam. 

BACA JUGA:Fraksi PSI DPRD Surabaya Bagikan Gembok Cakram, Wujud Kepedulian Keamanan Kota

Imam menilai Puskesmas di Surabaya belum siap menjalankan layanan 24 jam. Selain kekurangan SDM, sarana dan obat-obatan juga belum memadai. Ia mendesak Dinkes Surabaya untuk melakukan evaluasi dan memaksimalkan pelayanan.

"Jangan hanya pencitraan. Jika butuh tambahan tenaga medis atau obat, sampaikan saja, jangan membohongi publik," tegas Imam.

Sumber: