Dibanding Mamalia Lain, Mengapa Bayi Manusia Paling Tidak Mandiri?
Ilustrasi bayi baru lahir (Foto: pexels.com)--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Manusia tumbuh dan berkembang sejak dilahirkan. Namun berbeda dengan banyak mamalia lain, bayi manusia lahir dalam kondisi yang sangat lemah—bahkan untuk berbicara atau berjalan pun belum mampu dan masih harus digendong.
Pernahkah kamu menyadari bahwa bayi manusia terlihat jauh lebih rentan dibandingkan bayi hewan lain? Sebagai contoh, bayi simpanse sudah mampu berpegangan dan bergerak tak lama setelah lahir.
BACA JUGA:Kelebihan dan Kekurangan Sugar Wax dan Hard Wax untuk Perawatan Tubuh

Mini Kidi Wipes.--
Fenomena ini telah lama menjadi subjek penelitian dalam antropologi dan biologi evolusioner. Dalam biologi, hal ini dikenal sebagai “Obstetrical Dilemma” atau dilema persalinan.
Teori klasik yang diusulkan oleh Sherwood Washburn pada tahun 1960 menjelaskan adanya konflik antara dua hasil evolusi manusia:
bipedalisme (kemampuan berjalan tegak) dan ensefalisasi (perkembangan otak yang besar).
BACA JUGA:Sempat Jalani Perawatan, Korban Kritis Kebakaran Rumah di Jombang Meninggal Dunia
Di satu sisi, berjalan tegak menuntut bentuk panggul yang lebih sempit. Di sisi lain, otak yang besar membutuhkan ruang lahir yang lebih luas.
Jika bayi manusia tetap berada dalam rahim hingga otaknya matang sepenuhnya seperti mamalia lain, ukuran kepalanya akan terlalu besar untuk melewati panggul ibu.
Selain itu, ada juga teori yang menyebutkan bahwa tubuh ibu memiliki batas energi. Perkembangan otak janin membutuhkan energi yang sangat besar. Karena itu, kelahiran menjadi solusi alami agar bayi dapat memperoleh nutrisi dari luar tubuh ibu, yaitu melalui ASI, karena rahim tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--
Banyak ahli biologi bahkan berpendapat bahwa tiga bulan pertama kehidupan bayi manusia sebenarnya merupakan “trimester keempat”. Saat lahir, ukuran otak bayi manusia baru mencapai sekitar 25–30% dari ukuran dewasa, sementara bayi primata lain sudah mencapai sekitar 40–50%.
Dengan kata lain, “kelemahan” bayi manusia sebenarnya adalah strategi evolusi. Kerentanan ini mendorong orang dewasa untuk memberikan perawatan intensif, yang pada akhirnya membangun ikatan emosional yang kuat.
Sumber:








