Menuju ultah ke-8 memorandum.co.id
SFF 20266

Reaktualisasi Semangat Kartini dalam Ekonomi Kuliner Digital

Reaktualisasi Semangat Kartini dalam Ekonomi Kuliner Digital

Irra Chrisyanti Dewi Dosen Fakultas Kuliner, Teknologi Pangan & Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya.--

Tahap ini merupakan puncak dari proses pemberdayaan, di mana perempuan diberikan akses untuk tampil dan memimpin.

Panggung dapat berupa akses ke pasar digital, partisipasi dalam pameran, hingga kesempatan untuk menjadi narasumber atau mentor bagi perempuan lain.
Dengan adanya panggung, perempuan tidak hanya menjadi pelaku usaha, tetapi juga role model yang mampu

menginspirasi perubahan di masyarakat. Inilah transformasi dari dapur menuju kepemimpinan.

IMPLEMENTASI DI INDONESIA

Implementasi model 3P Framework memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Institusi pendidikan, seperti perguruan tinggi dan sekolah vokasi, memiliki peran strategis dalam menyediakan program pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Pemerintah dapat mendukung melalui kebijakan yang pro-perempuan, seperti penyediaan akses pembiayaan, pelatihan berbasis komunitas, serta penguatan ekosistem UMKM.

Sementara itu, sektor industri dapat berperan sebagai mitra dalam memberikan akses pasar dan peluang kolaborasi.
Program inkubasi bisnis kuliner perempuan dapat menjadi salah satu bentuk implementasi nyata.

Melalui program ini, perempuan tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga pendampingan hingga mampu menjalankan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

DAMPAK YANG DIHARAPKAN

Penerapan model ini diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan. Pertama, meningkatnya kemandirian ekonomi perempuan melalui usaha kuliner yang berkelanjutan.

Kedua, munculnya lebih banyak perempuan dalam posisi kepemimpinan, baik di tingkat komunitas maupun industri.

Ketiga, berkurangnya kesenjangan gender dalam akses ekonomi dan pendidikan. Keempat, terciptanya ekosistem yang mendukung pemberdayaan perempuan secara berkelanjutan.

Lebih dari itu, pemberdayaan perempuan juga akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat secara luas.

Perempuan yang berdaya akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pembangunan bangsa.

PENUTUP

Dapur bukanlah batas bagi perempuan, melainkan titik awal perjalanan menuju perubahan.

Melalui pendekatan yang tepat, sektor kuliner dapat menjadi jembatan bagi perempuan untuk mengembangkan potensi, meningkatkan kemandirian ekonomi, dan mengambil peran sebagai pemimpin.

Model 3P Framework yang mengintegrasikan pendidikan, pemberdayaan, dan akses panggung menawarkan solusi yang komprehensif dan aplikatif dalam konteks Indonesia.

Dengan dukungan berbagai pihak, transformasi dari dapur ke panggung kepemimpinan bukanlah hal yang mustahil.

Sudah saatnya kita melihat perempuan bukan hanya sebagai pelaku di balik layar, tetapi sebagai aktor utama dalam pembangunan.

Dari dapur, perempuan Indonesia dapat melangkah menuju panggung kepemimpinan dan membawa perubahan bagi masa depan bangsa.

Sumber:

Berita Terkait