Reaktualisasi Semangat Kartini dalam Ekonomi Kuliner Digital
Irra Chrisyanti Dewi Dosen Fakultas Kuliner, Teknologi Pangan & Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya.--
Oleh: Irra Chrisyanti Dewi
Dosen Fakultas Kuliner, Teknologi Pangan & Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya Email: [email protected]
PEREMPUAN Indonesia telah lama memainkan peran penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Namun, peran tersebut kerap terkungkung dalam ruang domestik, dengan dapur sebagai simbol utama aktivitas perempuan.
Ironisnya, di balik keterbatasan tersebut, dapur justru menyimpan potensi besar sebagai titik awal pemberdayaan ekonomi dan sosial perempuan.
Dalam konteks modern, dapur tidak lagi sekadar ruang memasak, melainkan ruang inkubasi kreativitas, inovasi, dan bahkan kepemimpinan.
Di tengah tantangan ketimpangan gender, rendahnya akses terhadap pendidikan berkualitas, serta terbatasnya peluang kepemimpinan bagi perempuan, sektor kuliner muncul sebagai salah satu bidang paling inklusif dan adaptif.
Dengan modal keterampilan dasar yang relatif mudah diakses dan potensi pasar yang besar, sektor ini membuka peluang luas bagi perempuan untuk berkembang.
BACA JUGA:Prof Mangestuti Agil: Kartini di Era AI, Perempuan Jadi Kunci Perubahan Global

Mini Kidi Wipes.--
Tantangan Nyata Perempuan Indonesia
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kesetaraan gender, perempuan di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan signifikan.
Pertama, akses terhadap pendidikan dan pelatihan keterampilan masih belum merata, terutama bagi perempuan di daerah rural.
Hal ini berdampak pada rendahnya daya saing perempuan di pasar kerja.
Kedua, banyak perempuan terjebak dalam sektor informal dengan pendapatan yang tidak stabil dan minim perlindungan sosial.
Dalam sektor kuliner, misalnya, banyak perempuan menjalankan usaha kecil tanpa dukungan manajemen yang memadai, sehingga sulit untuk berkembang secara berkelanjutan.
Ketiga, representasi perempuan dalam posisi kepemimpinan masih terbatas. Stereotip sosial yang menempatkan perempuan sebagai "pendukung" daripada "pemimpin" menjadi hambatan tersendiri dalam pengembangan potensi perempuan secara optimal.
Sumber:






