Reaktualisasi Semangat Kartini dalam Ekonomi Kuliner Digital
Irra Chrisyanti Dewi Dosen Fakultas Kuliner, Teknologi Pangan & Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya.--
Keempat, perkembangan teknologi digital yang pesat belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh perempuan, terutama dalam konteks pemasaran dan pengembangan usaha. Kesenjangan literasi digital menjadi tantangan baru yang perlu diatasi.

Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--
CULINARY ENTREPRENEURSHIP SEBAGAI SOLUSI STRATEGIS
Sektor kuliner merupakan salah satu sektor yang paling menjanjikan dalam upaya pemberdayaan perempuan.
Karakteristiknya yang fleksibel, adaptif, dan berbasis kreativitas menjadikannya mudah diakses oleh berbagai kalangan perempuan, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Culinary entrepreneurship tidak hanya memberikan peluang ekonomi, tetapi juga ruang untuk berekspresi dan berinovasi.
Banyak perempuan yang memulai usaha kuliner dari skala rumah tangga, kemudian berkembang menjadi bisnis yang mampu menciptakan lapangan kerja.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sektor kuliner memiliki daya ungkit yang tinggi dalam meningkatkan kesejahteraan perempuan.
Lebih jauh, perkembangan platform digital seperti media sosial dan live commerce membuka peluang baru bagi perempuan untuk memperluas pasar tanpa harus memiliki modal besar.
Dengan strategi yang tepat, perempuan dapat membangun brand personal sebagai chefpreneur dan meningkatkan daya saing usaha mereka.
MODEL PEMBERDAYAAN: 3P FRAMEWORK
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, diperlukan pendekatan yang sistematis dan terintegrasi dalam model PEMBERDAYAAN yang disebut sebagai 3P Framework, yaitu Pendidikan, PEMBERDAYAAN, dan Panggung.
1. Pendidikan (Education)
Pendidikan menjadi fondasi utama dalam PEMBERDAYAAN perempuan.
Program pelatihan harus dirancang tidak hanya untuk meningkatkan keterampilan memasak, tetapi juga mencakup aspek manajerial dan kewirausahaan.
Materi seperti pengelolaan keuangan, inovasi produk, serta strategi pemasaran digital menjadi sangat penting.
Selain itu, integrasi teknologi dalam pembelajaran, seperti pelatihan live commerce dan penggunaan media sosial, dapat meningkatkan literasi digital perempuan sehingga mereka mampu bersaing di era ekonomi digital.
2. Pemberdayaan (Empowerment)
Pemberdayaan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan keterampilan, tetapi juga penguatan mental dan kepercayaan diri.
Program mentoring dan coaching menjadi penting untuk mendampingi perempuan dalam mengembangkan usaha mereka.
Pembentukan komunitas perempuan juga dapat menjadi wadah untuk saling berbagi pengalaman, memperluas jaringan, dan menciptakan ekosistem yang saling mendukung.
Dalam konteks ini, perempuan tidak lagi berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari gerakan kolektif.
3. Panggung (Leadership & Market Access)
Sumber:






