Anang Subagio, Penjual Jamu dari Jember yang Setia Merawat Napas Budaya Keris
Sang Kolektor Keris Anang Subagio (53) Asal Ambulu --
JEMBER, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Di sela kesibukannya sebagai penjual jamu di Desa Ambulu Krajan, Kecamatan Ambulu, Jember, Anang Subagio (53) memiliki sebuah "ruang rahasia" yang penuh dengan nilai sejarah. Bagi Anang, keris bukan sekadar bilah besi tajam atau benda antik, melainkan napas budaya leluhur yang harus ia jaga agar tidak luntur oleh gerusan zaman.
Ketertarikan Anang pada keris bermula sejak ia masih remaja, tepatnya di usia 15 tahun, saat ia pertama kali menyentuh peninggalan sang kakek. Namun, kesadaran mendalam untuk merawatnya baru benar-benar tumbuh saat ia menginjak usia 40 tahun.
BACA JUGA:Wujud Pelestarian Budaya, Ketua Yayasan Ethnic Indonesia Harap Pemerintah Bangun Museum Keris

Mini Kidi Wipes.--
"Saya hanya ingin memastikan warisan leluhur ini tetap hidup. Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya tahu keris dari cerita, tanpa pernah mengenali nilai dan sejarah di baliknya," ujar Anang dengan nada penuh harap. Minggu 22 Febuari 2026.
Sejak mulai mengoleksi secara serius pada tahun 2012, kini ada hampir 35 keris yang tersimpan rapi dalam koleksinya. Ia mendapatkan keris-keris tersebut bukan sekadar untuk dimiliki, melainkan melalui jaringan silaturahmi dengan sesama pegiat budaya di Paguyuban Antik (PA) Jember—wadah tempat ia berkiprah sebagai pengurus sejak 2014.
BACA JUGA:Kurator Keris Raih Legitimasi, Warisan Nusantara Kian Terjaga
Bagi pria sederhana ini, keris adalah media untuk belajar tentang filosofi hidup. Melalui keberadaannya di komunitas, ia aktif menularkan semangat pelestarian kepada generasi muda, mengajak mereka untuk kembali melirik sejarah Nusantara.

Gempur Rokok Illegal--
Meski hari-harinya ia lalui dengan berjualan jamu, Anang membuktikan bahwa melestarikan budaya tidak butuh posisi tinggi atau harta berlebih. Yang dibutuhkan hanyalah keteguhan hati dan rasa cinta. Baginya, setiap keris yang ia rawat adalah doa agar identitas bangsa tetap kokoh berdiri di tengah modernitas yang terus berganti. (edy)
Sumber:




