Tergerus Arus Digital, Warisan Budaya Ini Mulai Asing bagi Generasi Alpha
Anak-anak yang sedang bergembira dan bermain bola.(Sumber: Jenni Agustina/Pexels)--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir memang terasa begitu pesat dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hampir semua aktivitas kini dapat dilakukan dengan lebih mudah berkat hadirnya berbagai inovasi digital, mulai dari cara berkomunikasi, belajar, hingga mencari hiburan.
Jika dulu orang harus keluar rumah untuk bermain bersama teman, sekarang cukup dengan smartphone di tangan, berbagai jenis permainan sudah bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Kehadiran game berbasis online dengan tampilan yang menarik, fitur interaktif, serta kemudahan akses ini perlahan menjadi hiburan favorit banyak kalangan, khususnya anak muda.
BACA JUGA:Indonesia Punya Banyak Camilan Tradisional Gluten Free yang Tak Kalah Lezat

Mini Kidi Wipes.--
Di tengah kemajuan tersebut, permainan tradisional yang dulu begitu akrab di lingkungan masyarakat pun mulai jarang terlihat dan perlahan kehilangan peminatnya. Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan tradisional menyimpan banyak hal menarik yang tidak dimiliki permainan digital. Mulai dari melatih kerja sama, kekompakan, strategi, hingga membangun interaksi sosial secara langsung dengan orang lain.
Dulu, suara anak-anak bermain di halaman rumah atau lapangan kecil masih menjadi pemandangan yang biasa ditemui setiap sore. Dan inilah lima dari banyaknya permainan tradisional yang ingin kami perkenalkan pada kalian.
BACA JUGA:Angkat Kuliner Tradisional, Bupati Situbondo Resmikan Car Free Day di Kecamatan Kapongan
Permainan tradisional pertama yang mungkin sudah tidak asing bagi sebagian orang adalah gobak sodor. Permainan ini biasanya dimainkan secara berkelompok di lapangan atau area terbuka dengan garis-garis yang membentuk beberapa kotak sebagai arena permainan. Dalam gobak sodor, para pemain akan dibagi menjadi dua tim, yaitu tim penjaga dan tim penyerang. Tugas tim penjaga adalah menghalangi lawan agar tidak bisa melewati garis yang dijaga, sementara tim penyerang harus berusaha melewati seluruh garis hingga kembali ke titik awal tanpa tersentuh oleh penjaga.
Meski terlihat sederhana, gobak sodor ternyata membutuhkan kerja sama tim, strategi, kecepatan, hingga ketelitian dalam membaca pergerakan lawan. Tak heran jika dulu permainan ini menjadi salah satu permainan favorit anak-anak karena selalu menghadirkan suasana ramai dan penuh tawa. Selain seru dimainkan bersama teman, gobak sodor juga membuat anak-anak lebih aktif bergerak dan berinteraksi secara langsung dibandingkan dengan hanya bermain melalui layar gadget.
BACA JUGA:Pasar Tradisional Jombang Terancam Mati Suri, DPRD Soroti Minim Inovasi dan Sepi Pembeli
Selain gobak sodor, permainan tradisional lain yang juga cukup populer pada masanya adalah engkle. Permainan ini biasanya dimainkan di halaman rumah atau jalanan yang digambar dengan kotak-kotak menggunakan kapur. Engkle dimainkan dengan cara melompat menggunakan satu kaki dari satu kotak ke kotak lainnya sambil melempar sebuah penanda, seperti pecahan genting atau batu kecil, ke dalam kotak tertentu. Pemain harus menjaga keseimbangan agar tidak jatuh atau menginjak garis selama permainan berlangsung.
Walaupun terlihat mudah, permainan ini ternyata membutuhkan fokus, keseimbangan, dan ketepatan dalam melangkah. Dulu, engkle sering dimainkan bersama teman-teman sepulang sekolah hingga sore hari. Keseruannya bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga tentang kebersamaan dan tawa yang tercipta selama bermain. Permainan sederhana seperti ini secara tidak langsung juga melatih koordinasi tubuh anak sekaligus membuat mereka lebih aktif bergerak di luar rumah.
Sumber:









