Bangku yang Menjauh
Fatkhul Aziz--
Di sebuah ruang di Ibu Kota, awal pekan ini, sebuah angka diucapkan dengan nada yang barangkali antara cemas dan harapan. Mukhamad Najib dari Kemdiktisaintek menyebut angka empat juta—sebuah barisan panjang anak-anak muda yang telah menggenggam ijazah SMA, namun langkahnya terhenti di depan gerbang kampus. Mereka adalah barisan yang menunggu, atau mungkin barisan yang mulai melupakan mimpi tentang sebuah toga.
Pendidikan, dalam bayangan kita yang idealis, seringkali digambarkan sebagai tangga. Sebuah proses pendakian dari kegelapan menuju cahaya, door duisternis tot licht. Namun, bagi empat juta anak itu, tangga tersebut tampaknya terlalu tinggi, atau anak tangganya terlalu rapuh untuk dipijak. Dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) yang baru menyentuh 32 persen di tahun 2024, kita dipaksa melihat sebuah kenyataan pahit: di negeri ini, bangku kuliah masih merupakan kemewahan yang selektif.
BACA JUGA:Jawa 2050

Mini Kidi Wipes.--
Ada yang ganjil dalam statistik. Kita bicara tentang target 38 persen di tahun 2029, tentang perlunya menambah 750 ribu mahasiswa baru hanya untuk menaikkan satu persen angka partisipasi. Namun, di balik angka-angka yang kering itu, ada manusia. Ada anak-anak di pelosok yang melihat universitas sebagai menara gading yang dikelilingi parit berisi biaya UKT yang kian mencekik dan prosedur yang kaku.
Pemerintah kini melirik daerah. Muncul wacana KIP-Da, sebuah harapan agar pemerintah daerah tak hanya sibuk membangun trotoar atau gedung dinas, tapi juga membangun otak manusia. Jakarta sudah memulai, namun bagaimana dengan daerah yang Pendapatan Asli Daerahnya hanya cukup untuk menggaji birokrasi?
BACA JUGA:Di Simpang Jalan Gubernur Suryo
Mungkin kita perlu bertanya kembali: apa arti sebuah bangku kuliah jika ia hanya menjadi angka dalam target pembangunan? Pendidikan tinggi seharusnya bukan sekadar pabrik yang mencetak sekrup-sekrup untuk mesin industri atau birokrasi. Ia seharusnya menjadi ruang di mana anak muda belajar menjadi "manusia"—mereka yang mampu berpikir kritis, yang berani menggugat ketidakadilan, dan yang memiliki imajinasi untuk membangun daerahnya kembali.
KIP Kuliah yang menjangkau 950 ribu mahasiswa di tahun 2026 adalah sebuah ikhtiar, tentu saja. Namun, selama akses ke ilmu pengetahuan masih ditentukan oleh tebal-tipisnya kantong atau keberuntungan mendapatkan beasiswa, maka keadilan sosial tetaplah menjadi kalimat yang tertahan di tenggorokan.

Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--
Empat juta anak itu bukan sekadar statistik. Mereka adalah potensi yang membeku. Jika bangku kuliah terus menjauh dari jangkauan mereka, kita sebenarnya sedang membiarkan masa depan Indonesia berjalan dengan kaki yang pincang. Kita butuh lebih dari sekadar "skema ikatan dinas." Kita butuh sebuah keyakinan bahwa setiap anak, tak peduli dari mana mereka berasal, berhak untuk duduk di bangku itu, membuka buku, dan percaya bahwa dunia bisa diubah dengan pikiran.
Sebab pada akhirnya, pendidikan bukanlah tentang mencapai angka 39 persen. Pendidikan adalah tentang memastikan tak ada satu pun anak yang merasa ditinggalkan oleh zamannya sendiri.
Sumber:







