selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Mencharging Iman

Mencharging Iman

Catatan Redaksi Rakhmat Hidayat.--

KESOMBONGAN akan membutakan hati, bahwa diatas langit masih ada langit. Dimuka bumi ada yang baik, namun ada yang lebih baik. Bahkan ada yang buruk, bisa jadi akan ada yang lebih buruk.

Sering kali kita melalaikan  dua nikmat, yakni waktu luang dan kesehatan.

Bahwa setiap perbuatan  mahluk di atas bumi, akan membutuhkan dan tidak lepas dari kekuasaan sang Kholiq. 

Sehingga di era serba modern, dan serba cangih. Bahkan dengan kekuatan ciptaan manusia melalui teknologi shofware (AI) atau kecerdasan buatan.

Dimana AI menjadi  teknologi sistem komputer yang dirancang untuk meniru kemampuan kongnitif manusia. 

Kemampuan manusia, akan terasa kosong. Jika tidak dibarengi dengan asa batin.  Tidak akan ada makna tanpa ada lapisan iman untuk tunduk kepada Tuhan Allah SWT. 

BACA JUGA:Ramadan dan Tawuran

BACA JUGA:Ironi BoP dan Narasi Perdamaian Semu

Bahwa teknologi bisa mengantikan manusia dalam bekerja. Namun kecerdasan buatan akan jauh dari rasa emosional    batin. Karena itu, setiap insan manusia memerlukan kehadiran Tuhan Allah SWT. Sebagai upaya  Charging Iman. 

Dalam opini ini, saya umpamakan manusia adalah dari sebuah mahakarya teknologi yang memerlukan pengisian daya (Charging) untuk menguatkan daya tahan iman. Tentunya akan diikuti dengan kemampuan daya tahan mental dan daya tahan tubuh.

Mengisi atau mencharging iman bisa dilakukan berbagai cara. Salah satu cara adalah mempertebal iman dengan berpuasa ramadan. Menjalankan salat 5 waktu. Sebagaimana dalam rukun iman.

Para ulama menyarankan berpuasa untuk tidak hanya menahan lapar dan haus  tetapi juga juga menjaga lisan dari ghibah dan menjahui perbuatan yang sia-sia.

Melaksanakan ibadah umrah atau haji, juga sebagai salah satu upaya men-charger iman. Ibadah umrah sering kali menjadikan pengalaman batin yang digambarkan sebagai momen puncak spiritualitas yang mendalam, menghadirkan ketenangan jiwa, keharuan luar biasa, dan kesadaran diri sebagai hamba. 

Momen-momen di tanah suci, seperti melihat Kakbah, tawaf dan sai mampu menurunkan ego, mwmicu refleksi dosa, serta memperkuat cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah.

Sumber: