selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Suara Denting di Balik Tabir

Suara Denting di Balik Tabir

--

Terdengar sayup-sayup suara denting ketika sendok beradu dengan piring di siang hari. Tak lama disambung suara gelegak air menyusuri tenggorokan. 

Sayangnya, siapa yang melakukan, tak terlihat. Sebab, tertutup tabir kain yang membentang untuk melindungi mereka dari tatapan nyinyir. 

Kondisi ini bisa dijumpai saat Ramadan di kedai, warung makan, hingga restoran. Di saat orang lain menahan lapar dan haus, namun di sisi lain ada orang yang menikmati  surga dunia dengan berbagai dalih. 

Memang kita tak bisa menyalahkan kondisi seperti ini di negara mayoritas umat muslim.  Toleransi tetap dijunjung tinggi, baik oleh mereka yang menjalankan ibadah puasa maupun yang tidak. 

Untuk membedah ini, kita menanggalkan kacamata moralitas sesaat dan menggunakan perspektif sosiologis. Kondisi ini sebenarnya mencerminkan dinamika struktur sosial, pergeseran nilai, dan negosiasi ruang publik.

Secara sosiologis, ruang publik di Indonesia selama Ramadan mengalami sakralisasi. Norma agama yang dominan menciptakan ekspektasi bahwa ruang publik harus menyesuaikan diri dengan individu yang berpuasa.

Namun, keberadaan warung yang buka menunjukkan adanya negosiasi ruang. Warung makan menjadi ruang antara (liminal space). Penggunaan tirai atau gorden bukan sekadar penghalang fisik, melainkan simbol sosiologis dari pluralitas dan solidaritas. 

Dalam teori Emile Durkheim, masyarakat modern cenderung memiliki solidaritas organik, di mana perbedaan peran dan latar belakang saling melengkapi.

Warung yang tetap buka melayani segmen masyarakat yang heterogen. Seperti masyarakat non-muslim. 

Orang dalam perjalanan, pekerja kasar yang membutuhkan energi fisik besar. Bahkanperempuan yang sedang berhalangan (haid).

Secara fungsional, pemilik usaha makanan dengan menutup usaha selama satu bulan penuh bukanlah pilihan yang rasional secara ekonomi. 

Struktur ekonomi masyarakat menuntut adanya sirkulasi uang yang terus menerus.

Penutupan paksa warung dapat dianggap sebagai gangguan terhadap fungsi adaptasi ekonomi dalam sistem sosial. 

Oleh karena itu, tetap bukanya warung adalah strategi bertahan hidup (survival strategy) di tengah tekanan struktural.

Sumber: