Suara Denting di Balik Tabir
--
Yang menarik, munculnya narasi menghormati yang tidak berpuasa sebagai tandingan narasi menghormati yang berpuasa. Tentu menunjukkan adanya kontestasi wacana dalam memperebutkan definisi toleransi.
Maka, secara sosiologis, warung yang buka saat puasa bukanlah bentuk pembangkangan agama, melainkan manifestasi dari masyarakat yang kompleks dan pragmatis.
Tirai-tirai warung adalah simbol harmoni yang rapuh sekaligus kuat; sebuah cara unik Indonesia dalam menyeimbangkan antara ketaatan spiritual dan realitas sosial-ekonomi. (*)
Sumber:




