Polisi Lagi Dicoba atau Justru Sedang Mencoba?
--
Nilainya bukan recehan. Miliaran rupiah. Angka yang membuat logika bisa goyah. Integritas bisa retak. Sumpah jabatan bisa menjadi sekadar formalitas upacara.
BACA JUGA:Rompi Oranye Itu Akhirnya Dilipat
Apakah gaji polisi kurang?
Rasanya bukan itu soal utamanya. Banyak polisi hidup sederhana. Banyak yang tetap lurus meski tak kaya. Jadi, ini bukan soal cukup atau tidak cukup.
BACA JUGA:Ancaman Superflu di Tengah Bayang-Bayang Covid-19
Ini soal cukup atau tidak cukup menahan diri.
Ada juga yang bilang: gaya hidup. Hedon. Lingkaran pergaulan. Tekanan jabatan. Semua bisa jadi alasan. Tapi alasan tidak pernah menghapus kesalahan.
BACA JUGA:Alam Berduka, Bandung Membara
Yang lebih berbahaya adalah persepsi publik.
Masyarakat tahu tidak semua polisi nakal. Tapi setiap ada satu yang terseret narkoba, yang rusak bukan hanya namanya. Yang rusak adalah kepercayaan. Dan kepercayaan itu mahal sekali.
BACA JUGA:Operasi Lilin dan Dosa Tahunan
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo punya PR (pekerjaan rumah) besar. Membersihkan rumahnya sendiri. Bukan sekadar memecat. Bukan sekadar memproses hukum. Tapi memastikan budaya yang memberi ruang pada “main mata” itu benar-benar diputus.
BACA JUGA:Barcode untuk Polisi Nakal
Karena kalau tidak, narkoba tidak lagi hanya merusak generasi muda.
BACA JUGA:Sekali Isap, Langsung Narkotika
Sumber:



