Menjaga Paru-Paru Kota
--
Ketika RTH menyusut, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi juga kualitas hidup warga.
BACA JUGA:Tindak Tegas Curanmor: Perlu, Tapi Jangan Berhenti di Represif
Kita juga perlu jujur melihat arah pembangunan, apakah perizinan properti sudah mempertimbangkan daya dukung lingkungan secara serius?
Ataukah pertumbuhan ekonomi masih menjadi alasan utama yang mengalahkan pertimbangan ekologis?
Surabaya selama ini dikenal sebagai kota dengan tata kelola lingkungan yang progresif.
BACA JUGA:Pembangunan dan Krisis Kepastian Hak Atas Tanah
Namun reputasi itu harus dijaga dengan konsistensi, bukan sekadar simbolik.
Revitalisasi taman harus dibarengi perlindungan lahan resapan dan pengawasan ketat terhadap alih fungsi lahan.
Ke depan, keberanian politik dibutuhkan, pemerintah kota harus tegas menolak proyek yang mengancam keseimbangan lingkungan.
BACA JUGA:Industrialisasi dan Sawah yang Dikorbankan
Di sisi lain, warga juga perlu didorong untuk aktif mengawasi dan terlibat dalam perencanaan kota.
Surabaya tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai kota yang ramah lingkungan.
Pembangunan penting, tetapi keberlanjutan jauh lebih penting.
BACA JUGA:Jangan Menunggu Bencana Baru Bergerak
Kota besar bukan hanya soal tinggi bangunan, melainkan juga seberapa luas ruang hijau yang dijaga untuk generasi mendatang.
Sumber:




