Super Flu
Fatkhul Aziz--
Mungkin maut tak lagi datang dengan genderang yang bertalu. Di akhir Desember 2025 dan awal tahun 2026 yang penuh harapan, saat lampu-lampu natal masih berpendar dan terompet tahun baru masih terngiang, ia menyelinap dalam bentuk sebuah kode yang dingin dan teknokratis: Influenza A H3N2 subclade K. Sebuah deretan alfabet dan angka—3C.2a1b.2a.2a.3a.1—yang bagi orang awam terdengar seperti bahasa asing, namun bagi para epidemiolog, ia adalah sebuah tanda yang mendesak.
Ia pertama kali terdeteksi di Balai Besar Laboratorium Kesehatan tepat pada hari Natal. Sebuah ironi yang getir: di hari yang merayakan kelahiran, sebuah ancaman baru justru teridentifikasi.
BACA JUGA:Perjalanan Penuh Perjuangan

Mini Kidi--
Kini, Super Flu itu bukan lagi cerita dari negeri jauh. Ia telah menapakkan kakinya di tanah kita. Di gedung parlemen, suara Nihayatul Wafiroh terdengar cemas namun lugas. Sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, ia tak sedang ingin berpuisi. Ia menuntut sebuah kepastian di tengah ketidakpastian. "Uji ulang," katanya. "Transparansi," tambahnya. Ia meminta Kementerian Kesehatan tak sekadar menunggu, tapi menyiapkan tameng: vaksin alternatif yang lebih manjur jika senjata yang kita miliki saat ini terbukti tumpul melawan sang subclade K.
Ada ketegangan yang klasik di sini: antara kebijakan publik yang harus cepat dan proses sains yang seringkali butuh ketelitian yang sunyi.
BACA JUGA:Nataru Penuh Haru
Kita mendengar penjelasan dari dr. Prima Yosephine dari Kemenkes. Ia bicara tentang data, tentang dominasi H3N2 yang masih mencapai 100 persen pada minggu ke-51 tahun 2025. Seolah-olah ia ingin menenangkan kita bahwa si pendatang baru, sang subclade K ini, belum benar-benar berkuasa. Namun, dalam sejarah pandemi, kita tahu bahwa yang "belum mendominasi" adalah sebuah jeda yang singkat sebelum badai benar-benar luruh.
Di titik ini, kita diingatkan kembali pada kerapuhan sebuah bangsa. Sains memberikan kita mikroskop dan urutan genomik, namun ia tak bisa memberikan kita ketenangan batin. Kita butuh transparansi, seperti yang didesak oleh Ninik di DPR, bukan sekadar untuk angka-angka statistik, melainkan agar masyarakat tak merasa sedang berjalan di dalam kabut yang gelap.
BACA JUGA:Kota yang Runtuh dalam Asap
Sebab, apa yang lebih menakutkan dari sebuah virus? Ia adalah ketidaktahuan. Ketika sebuah vaksin dipertanyakan efektivitasnya, yang runtuh bukan hanya sistem imun, melainkan kontrak sosial antara yang memerintah dan yang diperintah.
Indonesia kini berdiri di sebuah tikungan sejarah yang kecil namun menentukan. Kita sedang menguji apakah birokrasi kesehatan kita bisa bergerak secepat mutasi virus itu sendiri. Kita sedang menguji apakah kebijakan kita bisa "terukur," seperti yang diminta oleh wakil rakyat itu, ataukah kita akan kembali terperosok dalam kegagalan komunikasi yang berulang.
BACA JUGA:Kebaya dan Peta Sosial Nusantara
Pada akhirnya, di balik kode-kode rumit H3N2 dan perdebatan tentang vaksin alternatif, ada manusia-manusia yang menunggu dengan waswas. Mereka adalah orang-orang yang berharap bahwa di tahun 2026, napas mereka tak akan sesak oleh sesuatu yang tak kasatmata.
Sumber:


