Mojokerto, memorandum.co.id - Keberadaan pengusaha nakal yang diduga mengeksploitasi sumber mata air di lereng Gunung Welirang, memantik keresahan warga Dusun Kambengan, Desa Cempoko Limo, Kecamaran Pacet, Kabupaten Mojokerto. Karena itu, warga yang mengatasnamakan Paguyuban Petani berunjuk rasa di sumber mata air tersebut, Kamis (16/1) pagi. Mereka memprotes oknum pengusaha yang mengkomersilkan air yang bersumber dari lereng Gunung Welirang tersebut. Bahkan, aksi yang dipimpin Kades setempat, Mahfud Sulaiman, warga terpaksa harus mengusir sejumlah truk tangki dari tempat pengisian air diduga milik mantan bupati Lamongan. Warga juga menyegel pintu masuk. Langkah itu sebagai bentuk kegeraman warga lantaran air yang kesehariannya digunakan pengairan sawah dan kebutuhan warga, kian menyusut. Hanya saja dalam aksi tersebut, tak ada pengawalan satu pun dari petugas kepolisian. "Kami ingin semua air yang dikomersilkan ini ditutup semua,"ungkap Asmuji, salah seorang warga. Menurut dia, warga desa setempat resah dengan keberadaan sumber mata air milik negara tersebut dikomersilkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sementara, kebutuhan air untuk warga tak tercukupi. Jangankan, untuk pengairan persawahan, untuk kebutuhan sehari-hari saja mengalami penyusutan."Kalau seperti ini,warga yang dirugikan," yandas dia. Bagaimana tidak? Warga setempat yang menjadi lokasi sumber air malah kesulitan air karena menjamurnya tempat pengisian air tangki untuk dikomersilkan ke sejumlah daerah. Seperti, Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan kota-kota lain. Apalagi, eksploitasi air di desa setempat tidak hanya satu titik saja, tapi ada empat titik dengan pemilik berbeda. "Kalau seperti ini caranya, warga sini dijajah,"imbuh Paimin, warga lain. Apalagi, dari empat titik tersebut, tiga di antaranya tidak memiliki izin. Mereka seenaknya sendiri menjual air pegunungan tersebut. Salah satu di antaranya diduga milik mantan Bupati Lamongan. Setiap hari, puluhan truk tangki datang untuk membeli air di tempat pengisian yang berada di depan villanya. Air yang mengalir deras tersebut, setiap hari mampu menghasilkan 50 truk tangki dengan kapasitas 5.000 liter. Dengan harga per tangki dijual Rp 20 ribu. Sebaliknya, untuk pengisian yang dikelola pemerintah desa atau bumdes malah menyusut. "Sumber air banyak ditampung pengusaha. Sedangkan yang menyalur ke desa sedikit. Ini kan tidak benar,"papar dia. Sementara, Sopir truk tangki, Husain, tak mempermasalahkan penutupan sumber air oleh warga. Hanya saja, pihaknya meminta warga harus menutup keempat titik pengisian air yang dikomersilkan tersebut. "Kalau ditutup. Ya harus ditutup semua biar tidak ada kecemburuan sosial," ujar dia.(no/dhi)
Dieksploitasi Pengusaha Nakal, Warga Lima Dusun Tutup Sumber Air
Jumat 17-01-2020,02:17 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 06-04-2026,08:20 WIB
Jangan Sampai Ketinggalan! Ini Daftar Film Bioskop April 2026 Paling Lengkap
Senin 06-04-2026,09:45 WIB
Dijaga Ketat, BBPJN Pastikan Jembatan Suramadu Aman dan Bisa Dilalui hingga 100 Tahun
Senin 06-04-2026,11:37 WIB
Ngaku Driver Ojol, Sarjana Hukum Gasak Barang Penumpang, Jaksa Tuntut 1 Tahun Bui
Senin 06-04-2026,09:41 WIB
Mbah Tarom Pensiun, Sang Adik Masuk Bursa: Sinyal Takhta PKB Madiun Tak Berpindah?
Senin 06-04-2026,13:49 WIB
Ultimatum dari Balai Kota Madiun, Ancam Copot Lurah hingga Percepatan Kinerja OPD
Terkini
Senin 06-04-2026,23:08 WIB
Bupati Jember Tinjau Banjir Mumbulsari, Koordinasi dengan Provinsi untuk Penanganan Cepat
Senin 06-04-2026,23:04 WIB
Gus Fawait Serap Aspirasi Warga Lewat Program Bunga Desaku di Mumbulsari
Senin 06-04-2026,22:05 WIB
Dindik Jatim Gandeng Industri, 137 SLB Perkuat Kompetensi ABK
Senin 06-04-2026,22:01 WIB
Persit Bisa Dorong UMKM Nasional Lewat Pameran Produk Kreatif
Senin 06-04-2026,21:55 WIB