Nanik merasa disepelekan. Sakit hati. Apalagi sejak dekat juragannya, Parem sok jual mahal. Tidak lagi mau bareng-bareng pergi belanja. Sekadar gegojekan pun tidak mau. Pak Candra pun jadi jarang mengajak omong. Kalau menyuruh hanya memanggil hai-hai tanpa menyebut nama. Kebiasaan Pak Candra bagi-bagi kue sepulang kerja juga jadi sangat jarang dilakukan. Kalapun masih, kue-kue tadi hanya ditaruh di piring dan digeletakkan di ruang keluarga. Ketika semua anggota keluarga selesai kumpul-kumpul, kue-kuenya langsung ludes. Tidak tersisa secuil pun. Padahal, biasanya Nanik dijatah sendiri. Dibungkus kertas atau dimasukkan tas kresek. Sekarang, setiap Pak Candra pulang bawa kue-kue, Nanik hanya bisa ngelek idu. Ngaplo. Sebaliknya, Nanik pernah memergoki Pak Candra membungkus kue-kue yang dibawa sepulang kerja. Tapi bukan untuk dirinya, melainkan untuk Parem dan diberikan tengah malam setelah melompati pagar tembok belakang. Semakin lama sikap Parem dan Pak Candra dirasakan Nanik semakin bikin sakit hati. Dada Nanik sampai nyeri dan cekot-cekot. Ingin balas dendam. Tapi, apa yang harus dilakukan? Untuk sementara yang bisa dilakukan Nanik hanya tutup mata atas kenyataan yang dilakoni Parem dan Pak Candra. Pura-pura tidak melihat. Pura-pura gak ngreken. Hanya, Nanik kadang-kadang kasihan kepada juragan perempuannya. Tapi, tidak juga begitu-begitu amat sih. Sebab, juragan perempuannya toh cuek banget. Sepertinya tidak memedulikan apa pun yang dilakukan suaminya. Pak Candra pulang telat, misalnya, dibiarin aja; Pak Candra tidak pulang beberapa hari pun dicuekin. Bagi juragan perempuannya, sebut saja Mamik: apa pun silakan dilalukan suami, yang penting makanan di rumah melimpah dan uang arisan tidak pernah telat. Itu sudah cukup. Karenanya, jangan kaget kalau semakin ke sini, tubuh Bu Mamik semakin tidak terkendali. Terakhir Nanik melihat angka timbangan Bu Mamik mencapai 97 kg. Toh begitu, orangnya cuek bebek. Kalau ada yang nggojoki, paling hanya dijawab begini, “Siapa bilang aku gemuk? Cuma, panjang dan lebar tubuhku tak imbang.” Itu saja. Makanya jangan terburu memarahi Nanik kalau tidak punya keinginan kuat untuk melaporkan kelakuan Pak Candra vs Parem. Dia lebih memilih cara lain untuk mengekspresikan sakit hatinya kepada Parem. Ide itu muncul ketika teman sedesanya, Susi, mampir ke tempat kerjanya. Nanik sempat kaget karena tidak biasanya disamperin Susi yang kabarnya sudah hidup mapan itu. (jos, bersambung)
Melepaskan Juragan dari Jerat Pembantu Tetangga (2)
Senin 27-03-2023,10:00 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 31-03-2026,13:34 WIB
Amankan Aset Fasum, 18 PSU Pengembang Diserahkan ke Pemkot Surabaya
Selasa 31-03-2026,09:22 WIB
Harga Plastik Masih Tinggi Usai Lebaran 2026, Ini Penyebabnya
Selasa 31-03-2026,15:42 WIB
Bak Film Action, Penggerebekan Bandar Narkoba di Sumberbaru Temukan Lima Senpi dan Belasan Sajam
Selasa 31-03-2026,10:46 WIB
Tragedi Lebaran di Pesisir Selatan: Gulungan Ombak Papuma hingga Paseban Telan Korban, 1 Tewas dan 2 Hilang
Selasa 31-03-2026,10:26 WIB
Petaka di Balik Kap Mesin: Niat Perbaiki Mobil, Rumah Warga Jember Ludes Dilalap Api
Terkini
Rabu 01-04-2026,07:39 WIB
Pastikan Stok BBM Aman, Polsek Rungkut Intensifkan Patroli Dialogis di SPBU Pandugo
Rabu 01-04-2026,07:27 WIB
Respons Cepat Satpolairud Polres Gresik Bantu Evakuasi Jasad Lansia di Dermaga Pelabuhan Petro
Rabu 01-04-2026,06:52 WIB
Perhutani KPH Nganjuk Berikan Santunan Anak Yatim dalam rangka HUT Ke 65 Perum Perhutani
Rabu 01-04-2026,06:36 WIB