Sampai saat itu Koko masih belum bisa 100 persen menerima kenyataan bahwa dia sebenarnya seorang cowok, bukan cewek. Koko sudah dibawa ke psikiater—istilah ini baru diketahui setelah Koko duduk di bangku SMA. Yang jelas, Koko menjadi sadar bahwa orang-orang sudah tidak lagi suka dia tampil sebagai perempuan. Mereka menghendaki Koko tampil sebagai laki-laki. Bapak dan ibu juga. Demikian pula pakde dan bude yang pernah Koko curhati. Koko pribadi masih merasa dirinya sebagai seorang cewek. Seorang perempuan. Makanya, untuk sekadar memuaskan diri, dia sering berangkat tidur dengan memakai pakaian perempuan. Pakaian-pakian itu dia beli di pasar tradisional dekat rumah. Ketika kelas dua SMA, Koko semakin berani mengeksplore keperempuanannya. Dia sengaja pergi dari rumah dengan pakaian pria. Namun sesampai tujuan, plasa atau mal, dia masuk toilet dan berganti pakaian perempuan. Lengkap dengan wig rambut panjang. Koko puas berjalan keliling dengan gaya lenggak-lenggok melambai. Dan, dia sangat bangga bila melihat ada segerombolan pemuda atau bapak-bapak melihat dan melirik dengan pandangan kagum dan bibir berdecak. Swit-swiiit… Di sekolah, Koko juga pernah naksir kakak kelas. Dia ketua OSIS dan anggota paskibra. Anaknya gagah dan ganteng. Badannya tinggi-besar. Dadanya bidang dan lengannya kekar. Koko selalu ingin dekat dengan dia, tapi selalu minder. Dia takut, jangan-jangan setelah dekat, pemuda itu kabur setelah mengetahui siapa Kok yang sebenarnya. Yang jelas, sebagai sekretaris OSIS, Koko memiliki kesempatan besar untuk dekat dengan dia. Namanya sebut saja Andy. Kesempatan untuk dekat datang, antara lain, ketika mereka bersama-sama mengikuti perkemahan di Trawas, Mojokerto. Kebetulan keduanya satu grup dan harus tidur satu tenda bersama delapan teman lain. Pada hari pertama, mereka mengikuti banyak kegiatan sosial, bergabung dengan penduduk kampung yang sedang membuat saluran irigasi. Mulai pagi hingga petang. Malamnya, Koko sengaja berusaha mencari posisi tidur berdampingan dengan Andy. Dan berhasil. Sekitar pukul 21.00, setelah salat Isya berjemaah, makan malam bersama, dan diskusi kelompok, mereka berangkat tidur. Andy memilih tempat di pojok, Koko di sebelahnya. Dengan deg-degan dia lantas berbaring. Mereka terlibat pembicaraan ringan. Koko lihat badan Andy yang kekar hanya dibalut kaus singlet dan celana training. Kok gak dingin ya? Hampir semalaman Koko tidak bisa memejamkan mata. Pandangannya selalu tertuju ke sosok Andy di sebelahnya. Koko sangat ingin lebih mendekati Andy dan memeluknya erat-erat. Tapi takut. Andy pasti akan menolak. Bahkan mungkin marah-marah. Jujur, selama ini Koko memang lebih tertarik secara seksual kepada laki-laki ketimbang perempuan. (jos, bersambung)
Cahaya Langit yang Sinari LGBT di Dini Hari (6)
Rabu 15-03-2023,10:00 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Rabu 01-04-2026,13:42 WIB
Pemugaran Sayap Barat Grahadi Tampilkan Sejarah 1810, Gunakan Material Khusus dari Jerman
Rabu 01-04-2026,15:37 WIB
Pengacara Terdakwa Pelindo Ajukan Eksepsi, Singgung Pasal UU Tipikor Lama dan KUHP Baru
Rabu 01-04-2026,11:20 WIB
Cabut SE WFH ASN Hari Rabu, Tidak Sinkron dengan Pemerintah Pusat
Terkini
Kamis 02-04-2026,06:27 WIB
Peringatan HUT ke-112 Kota Malang, Ketua DPRD Beri Catatan Kritis soal Banjir hingga Kemiskinan
Kamis 02-04-2026,06:16 WIB
Pemkot Batu Belum Terapkan WFH ASN dan Belajar Daring, Masih Tahap Pengkajian
Kamis 02-04-2026,06:01 WIB
Tiga Kali Beruntun Gagal ke Piala Dunia, Italia Terjebak Krisis Berkepanjangan
Kamis 02-04-2026,05:54 WIB
Harry Maguire Didakwa FA Usai Kartu Merah Lawan Bournemouth, Terancam Sanksi Tambahan
Kamis 02-04-2026,05:48 WIB