Surabaya, memorandum.co.id - Pengamat kebijakan publik dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Andri Arianto menegaskan, ketokohan masyarakat di tingkat kampung tidak hanya dilegitimasi dengan pendidikan formal. Hal ini, menyikapi pemilihan ketua RT/RW di Kota Pahlawan. Andri menyebutkan, bisa saja ketokohan itu hadir dari proses organik di komunitas masyarakat yang disebut pemimpin informal, latar belakang pribadi seorang informal pemimpin bisa memiliki kualitas subjektif dan objektif sehingga mampu tampil dan dapat legitimasi dari komunitasnya. “Saya kira ketokohan tidak hanya diukur dengan pendidikan formal. Ini pekerjaan bersama untuk mengenal potensial pemimpin informal ditingkat bawah,” ujar Andri. Alumnus FISIP Unair ini, menegaskan banyak faktor yang harus diperhatikan untuk mengawal proses penataan RT/RW di wilayah Kota Surabaya. "Meski saat ini banyak pendapat tentang syarat pemimpin harus memiliki ijazah formal, namun masih banyak juga masyarakat yang mengakui seseorang sebagai pemimpin informal. Bisa karena kredibilitasnya, reputasinya, dan pengaruh mereka di lingkungan,” tegas Andri. Munculnya ketua RT atau ketua RW, diyakini banyak pihak karena kemampuan calon yang maju. Sebab antusias calon, akan diukur dengan kemampuan pribadi calon, maupun kepekaan sosial di lingkungannya. Hal itu, juga tidak bisa diukur dengan kemampuan akademik. Karena kepemimpinan di tingkatan lapisan bawah sebagai ujung tombak program pembangunan kota di tingkat RT atau RW, muncul dari tauladan ketokohan. Karena itu, lanjut Andri bahwa ketokohan pemimpin informal ini bisa mendapat legitimasi dari kelurahan, LKMK, jajaran lingkungan RT/RW sekitar. Apalagi sebentar lagi, menghadapi tahun politik (Pemilu 2024). “Selama mampu memberikan tauladan baik, mampu meredam/menyelesaikan Konflik, dan dipercaya integritasnya oleh masyarakat, legitimasi pendidikan formal bisa menjadi tidak mutlak,” urai dia. Potensi banyaknya warga yang mengikuti pencalonan RT/RW, lanjut Andri karena perhatian pemkot terhadap jabatan ujung tombak di masyarakat ini luar biasa. Salah satunya adanya fasilitas anggaran untuk ketua RT/ketua RW menjadi penggerak banyaknya warga yang nantinya menjadi pemicu mencalonkan diri. Pemilihan RT/RW di Kota Surabaya menarik banyak perhatian. Karena jabatan strategis di ujung pelayananan masyarakat ini, juga mendapat fasilitas gaji dari Pemkot Surabaya. (day)
Pengamat: Calon RT/RW Tidak Hanya Dilegitimasi Pendidikan Formal
Jumat 25-11-2022,18:11 WIB
Reporter : Syaifuddin
Editor : Syaifuddin
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 06-11-2026,23:08 WIB
Golkar Buka Suara soal Isu Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo, Nama Bahlil Terseret
Sabtu 07-11-2026,07:29 WIB
Teater Digital dan Ilusi Nyali
Sabtu 07-11-2026,08:56 WIB
Peringati Hari Jadi Tuban ke-733, Kapolresta Bersama Bupati Ziarah ke Delapan Makam Leluhur
Sabtu 07-11-2026,11:22 WIB
Sambut Hari Jadi ke-821 Tulungagung, Kecamatan Ngantru Gelar Gerakan Pangan Murah
Sabtu 07-11-2026,00:09 WIB
Kejagung Usut Korupsi Tambang Nikel Sultra, AK Diduga Kendalikan 6 Perusahaan
Terkini
Sabtu 07-11-2026,21:20 WIB
Kasus Bawaslu Kota Madiun Tunggu Hasil PKN, Kejari Akui Ada Potensi Tersangka
Sabtu 07-11-2026,20:23 WIB
Gandeng Kampus, Polresta Malang Kota Deklarasikan Boso Walikan
Sabtu 07-11-2026,19:24 WIB
Wanita Tewas Terserempet Kereta Api Jenggala di Plosowahyu Lamongan
Sabtu 07-11-2026,18:26 WIB
Resmikan Rumah Tulus Hati, Wali Kota Mas Adi Dorong Pelestarian Kawasan Heritage di Kota Pasuruan
Sabtu 07-11-2026,17:29 WIB