Setelah itu Pak RT pamit. Dia berjalan nyeker. Tidak berani memakai sandal yang baru saja dijadikan mainan para jin. Rencana jagongan sampai pagi berantakan. Memorandum dan Tomi sepakat melanjutkan Tahajud bersama. Suasana kemarin sepi dan mencekam. Pada rakaat ketujuh terdengar suara gremeng-gremeng dari dalam rumah. Tidak jelas. Disusul embusan angin di tengkuk. Itu saja. Tidak apa-apa lagi sampai salat berakhir. Ternyata hal yang sama dirasakan Tomi. Hanya, dia juga merasakan kedua kaki seperti dibelenggu menjadi satu. Kayak ditali erat dan sulit digerakkan. Namun setelah berhasil mengembalikan kekhusyukan yang sempat terganggu, yang dirasakan itu perlahan-lahan hilang. “Kayaknya rumah ini memang perlu di-ruqyah,” kata Tomi setelah kami salat Subuh berjemaah di musala. Padahal, kata Tomi, setiap malam dia dan anak sulungnya selalu rajin membacakan ayat-ayat ruqyah di dalam rumah. Tak hanya itu, kadang dibantu Pak RT dan remaja musala membaca Alquran bersama. Ketelatenan Tomi membuahkan hasil. Sejak tiap hari diadakan pembacaan ayat-ayat suci di rumah tersebut, gangguan berangsur-angsur berkurang. “Memang belum hilang tuntas,” kata Tomi. Tapi paling tidak, tambah dia, sudah jarang muncul. Sangat jarang. Tomi bahkan sudah berani mengajak istrinya, yang tidak jadi bercerai, untuk kembali pulang ke rumah yang dikenal angker tersebut. Memorandum ingin bertemu teman Tomi yang katanya seorangpe ustaz. Ingin tahu bagaimana dia membujuk istri Tomi agar tidak jadi minta cerai. Dan yang utama, ingin tahu cara dia mengusir para jin penghuni rumah baru Tomi. Lelaki tersebut hanya tersenyum ketika ditanya Memorandum. Dia mengaku setiap selesai memimpin ngaji bersama di rumah Tomi, dia selalu berkata dengan keras di setiap ruangan rumah tersebut, “Mengatakan apa?” tanya Memorandum kepo. “Saya hanya berkata begini: kalian segera pergi dari rumah ini. Kalau tidak, jangan menyesal kalau saya melakukan sesuatu. Itu saja,” katanya. Dia menambahkan bahwa tidak jau dari rumah itu ada waduk yang cukup luas yang bisa dijadikan tempat tinggal kelauarga besar sekalipun. Banyak pohon dan celah kekatuan yang nyaman. “Itu saja?” tanya Memorandum. “Ya. Hanya itu. Saya tidak mengancam mereka dengan yang macam-macam. Malah menawarkan tempat tinggal baru,” katanya. Keesokan harinya Memorandum kembali jagongan di rumah Tomi hingga pulang pukul 01.25 melewati jembatan waduk tidak jauh dari situ. Ketika konsentrasi melihat gundungan di tengah jembatan, rasanya kepala ini ada yang njendul cukup keras. (jos, habis)
Membeli Rumah Amat Murah tapi Angker Dekat Waduk (6-habis)
Jumat 04-11-2022,10:00 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 22-09-2026,19:19 WIB
Dua WNA India Adukan Dugaan Eksploitasi Kerja di Tempat Yoga Surabaya Barat
Rabu 23-09-2026,04:05 WIB
Korlap PSHT Tegaskan Komitmen Jaga Kondusivitas Magetan
Selasa 22-09-2026,18:20 WIB
bebas Bersyarat, Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Tetap Harus Penuhi Kewajiban Bayar Denda
Rabu 23-09-2026,02:02 WIB
Tempat Healing di Indonesia: 4 Destinasi Wisata Alam untuk Melepas Penat
Selasa 22-09-2026,19:27 WIB
Saling Olok di HP Berujung Pembacokan, Tukang Parkir Disabet Pisau di Tegalsari
Terkini
Rabu 23-09-2026,16:58 WIB
Operasi Gempur Rokok Ilegal di Pasuruan Nihil Temuan
Rabu 23-09-2026,16:51 WIB
Polsek Blimbing Malang Terima Anak Berkebutuhan Khusus dari Pengemudi Ojol
Rabu 23-09-2026,16:45 WIB
BRI BO Surabaya Jemursari Perkuat Kemitraan Strategis dengan PT Kebon Agung
Rabu 23-09-2026,16:39 WIB
Di Tengah Polemik, Akh Muzakki Dikabarkan Lepas Jabatan Rektor UINSA
Rabu 23-09-2026,16:31 WIB