Surabaya, memorandum.co.id - DPRD Kota Surabaya kembali menggelar reses di daerah pemilihannya masing-masing. Ini merupakan masa reses tahun keempat masa persidangan kesatu tahun anggaran 2022. Sejumlah anggota dewan lantas gerak cepat jemput bola menjaring aspirasi warga metropolis. Salah satunya anggota DPRD Surabaya, Abdul Ghoni Muhklas Ni'am. Dia menggelar reses di RT 4/RW 3, Kelurahan/Kecamatan Bulak. Dalam kegiatan resesnya, politisi PDI Perjuangan tersebut mendapat keluhan masalah banjir yang sering terjadi di wilayah Bulak. Selain itu, juga terkait penanganan banjir yang belum maksimal. Zainul, salah satu warga setempat menuturkan bahwa masyarakat sangat berharap adanya pembangunan infrastruktur di daerah Bulak. Sebab, pada saat musim hujan selalu menjadi langganan banjir. "Bahkan yang bikin miris, banjir pernah sampai batas dengkul orang dewasa," ucap Zainul, Kamis (13/10). Menyikapi hal itu, Abdul Ghoni Muhklas Ni'am yang juga anggota Komisi C ini menyebut, penanganan banjir memerlukan anggaran yang relatif besar. Karena itu, perlu dilakukan upaya secara serius dengan melibatkan berbagai pihak termasuk masyarakat dan pihak swasta. “Mitigasi banjir memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dan terintegrasi,” ucapnya. Ghoni menerangkan, mitigasi banjir dapat dilakukan dengan sejumlah cara, salah satunya dengan pembangunan infrastruktur. Seperti, revitalisasi selokan maupun sungai, lalu upaya penerapan early warning system, dan pengembangan soft skill masyarakat dalam menghadapi ancaman banjir. Menurut telaahnya, pemerintah perlu menjalankan program edukasi secara sistemik sampai kepada aparat di tingkat terkecil yakni, RT/RW. “Harus diberi pemahaman sampai kepada RT bahwa ketika terjadi hujan ekstrem itu bisa menyebabkan banjir. Artinya pada kondisi hujan deras jangan sampai tertidur pulas, masyarakat harus waspada,” tegas Ghoni. Edukasi semacam ini, lanjutnya, memang memerlukan upaya yang besar, namun bisa jadi cukup efektif. Salah satunya, menjadi bagian dari muatan lokal pendidikan usia dini di sekolah dan bahkan bagian dari budaya masyarakat. Seperti, tradisi bersih desa atau kerja bakti yang harus dilakukan secara periodik dan simultan. "Semua ini tidak terlepas dari upaya kolektif masyarakat untuk bersama-sama mencegah bencana, melalui komunikasi dan upaya saling mengingatkan dari perangkat kelurahan hingga masyarakat," jelasnya. “Ini kadang kita abai karena bencana hanya sesaat, di antara 365 hari dalam setahun hujannya hanya beberapa hari. Tapi edukasi benar-benar dibutuhkan, dan ini harus dilakukan secara kolektif oleh kelompok masyarakat, tidak bisa masing-masing individu,” sambung politisi muda ini. (bin)
Disambati Warga Bulak Soal Banjir, DPRD Dorong Program Mitigasi
Kamis 13-10-2022,15:45 WIB
Reporter : Aziz Manna Memorandum
Editor : Aziz Manna Memorandum
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 14-08-2026,12:55 WIB
Empat JPTP Pemkot Madiun Mulai Dilirik ASN Luar Daerah
Jumat 14-08-2026,09:30 WIB
Tio Ferdian Klarifikasi, Aulia: Saya Menolak Hubungan Seksual, Namun Tetap Terjadi
Jumat 14-08-2026,06:26 WIB
Presiden Prabowo Dorong Produksi Motor Listrik Nasional hingga 2 Juta Unit
Jumat 14-08-2026,08:36 WIB
Ada Perbedaan Fakta, Tio Ferdian Rahmana Klarifikasi Soal Isu Aborsi yang Viral
Jumat 14-08-2026,14:06 WIB
Kasus Korupsi Madiun, 63 Saksi dan Ahli Dihadirkan, JPU KPK Tuntaskan Pembuktian Dakwaan Maidi Cs
Terkini
Jumat 14-08-2026,21:27 WIB
Sambut HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, KAI Tambah Kapasitas KA di Blitar untuk Antisipasi Lonjakan Penumpang
Jumat 14-08-2026,21:24 WIB
Radar MBG Disiapkan, Bupati Lumajang: Masyarakat Lebih Mudah Akses Informasi Program
Jumat 14-08-2026,20:54 WIB
Komunitas CAB Lumajang Gelar Tasyakuran, Tiga Anggota Berprestasi di Lomba Karaoke
Jumat 14-08-2026,20:42 WIB
Puan Maharani Minta Pemerintah Jaga Empat Hal dalam APBN 2027 di Jakarta
Jumat 14-08-2026,20:39 WIB