Sudah saatnya kita menghidupkan kembali tradisi tabayyun di ruang-ruang majelis, merawat nalar kritis yang santun, serta mendidik umat bahwa takzim terbaik kepada seorang guru adalah dengan meneruskan warisan ilmunya yang mencerahkan, bukan dengan memenjarakan akal sehat dalam sangkar fanatisme buta.
Sebab kebenaran, pada hakikatnya, tidak pernah butuh dibela dengan caci maki. (*)
Catatan Akhir Pekan KH A Nawawi Maksum, Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa, Bondowoso