sumpah
iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Sumpah Pemuda dan Punggung Wong Cilik

Sumpah Pemuda dan Punggung Wong Cilik

-Ilustrasi-

Pagi itu, di beranda rumah panggung beratap rumbia, seorang petani tua menyeruput kopi hitam sambil menatap embun yang menggantung di ujung daun padi. Bagi orang sepertinya, kalender negara termasuk tanggal merah bertuliskan Sumpah Pemuda sering kali lewat begitu saja tanpa makna. Urusan hidup sehari-hari jauh lebih mendesak: harga pupuk yang melonjak, hasil panen yang dipermainkan pasar, dan langit yang kian sulit ditebak. 

BACA JUGA:Tamu Culas di Rumah Sendiri

Namun, ratusan kilometer dari ladang itu, di jantung ibu kota, jalanan mengepulkan debu orasi. Ribuan mahasiswa dan aliansi rakyat turun ke aspal, membentangkan spanduk, menyalakan suar. Bau gas air mata beradu dengan pekik kemarahan. 

Orang-orang di pinggiran yang melihat layar ponsel sering kali menggeleng kepala, lalu melontarkan tanya lugu: "Apa urusannya anak-anak kampus demo di kota dengan periuk nasi kami di perkampungan?" 

BACA JUGA:Ketika Ketua NU Menyeberang Pagar

Sebuah kalimat yang meluncur begitu saja, tajam menghujam ulu hati. 


Mini kidi--

Kita memang gemar merayakan sejarah dengan retorika. Di permukaan, demo dan Sumpah Pemuda tampak seperti dua keping mata uang yang berbeda cetakan. Yang satu adalah ritual tahunan yang kerap direduksi negara menjadi upacara seremonial yang kaku; yang lain adalah kericuhan jalanan yang menghentikan lalu lintas. 

Tetapi sejarah jarang sekali berjalan lurus. Ia berkelok, kadang melelahkan, sering kali menyesakkan. Sumpah Pemuda 1928 dulu lahir dari rahim keresahan: meruntuhkan sekat-sekat kesukuan demi satu tanah air. 

BACA JUGA:Kalah Bersaing, Kok Merusak?

Hari ini, semangat itu bermetamorfosis. Musuhnya bukan lagi serdadu kolonial bermata biru, melainkan ketimpangan yang dipelihara oleh bangsa sendiri oligarki yang merampas ruang hidup, kebijakan yang menindas, serta kesenjangan yang menganga lebar. 

Dalam khazanah esoteris Islam, khususnya tradisi tasawuf, dinamika ini mengingatkan kita pada definisi kezaliman yang sangat mendasar. Syekh al-Akbar Ibn ‘Arabi dalam risalah-risalah spiritualnya sering mengingatkan bahwa kezaliman bukanlah sekadar melanggar hukum positif, melainkan wad‘us syai’ fi ghairi mahallihi menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ketika anggaran negara salah alokasi, ketika tanah-tanah subur dirampas dari tangan kaum tani untuk melanggengkan keserakahan, itulah bentuk kezaliman kosmik yang menciderai Mizan (keseimbangan alam semesta). 

BACA JUGA:Data Manis, Bondowoso Menangis

Sosiolog menyebut demo hari ini sebagai hidden transcript catatan tersembunyi dari akumulasi keresahan senyap. Ketika ruang-ruang dialog formal di gedung megah bersuhu dingin tersumbat oleh kepentingan elite, jalanan mendadak berubah menjadi satu-satunya mimbar kejujuran yang tersisa. 

Sumber:

Berita Terkait