Sumpah Pemuda dan Punggung Wong Cilik
-Ilustrasi-
Anak-anak muda itu tidak sedang mencari panggung. Dalam bahasa teologi profetik, apa yang mereka lakukan adalah manifestasi dari Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang paling konkret: menegakkan keadilan sosial dan menolak kemungkaran struktural. Mereka meneriakkan mahalnya biaya pendidikan, sempitnya lapangan kerja, dan cemasnya hari esok. Keresahan yang sama, persis dirasakan oleh para orang tua di pinggiran yang ingin anaknya kuliah tapi terbentur biaya yang mencekik leher.
BACA JUGA:Ketika Paru-Paru Bumi Mulai Sesak
Lalu, apa sangkut pautnya dengan mereka yang di akar rumput? Jawabannya getir: warga pedesaanlah yang paling lama dan paling telak menanggung beban dari kebijakan keliru di pusat.
Ketika hutan-hutan di hulu dibabat atas nama investasi, orang kota mungkin hanya mengeluh gerah di dalam sedan mewah berpendingin udara. Namun, warga di pinggiranlah yang sumurnya kering, yang rumahnya diterjang banjir bandang, dan yang lahannya dirampas.
Padahal, Alquran telah mengingatkan lewat surah Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut adalah ulah tangan manusia sendiri. Ketika alam dikhianati, azab ekologisnya jatuh lebih dulu di bilik-bilik bambu kaum papa, bukan di kamar-kamar mewah para pembuat kebijakan.
BACA JUGA:Surat untuk Ibu
Sebab unjuk rasa di jalanan bukan sekadar hura-hura metropolitan. Ia adalah alarm darurat. Jika tekanan jalanan itu berhasil memaksa penguasa melunak, angin sejuknya akan mengalir sampai ke pelosok negeri: perlindungan lahan tani, keadilan harga, dan jaminan masa depan.
Di sinilah takdir kebangsaan kita bertemu di titik temu yang sakral. Mereka yang merawat tanah ibu pertiwi dengan kesabaran, peluh, dan doa di sawah-sawah sunyi menjalankan ibadah ekologis yang senyap di batas cakrawala. Sementara anak-anak muda di kota menggunakan idealismenya untuk menagih keadilan di hadapan singgasana kuasa. Keduanya adalah satu napas yang sama.
BACA JUGA:Saat Kursi Lebih Silau dari Akhlak
Sebab, jika pusat salah mengurus republik ini, deritanya takkan pernah berhenti di trotoar ibu kota. Ia akan merambat pelan, mengetuk pintu-pintu rumah sederhana di ujung perkampungan, dan menguji seberapa kuat punggung wong cilik menanggung beban negeri yang sedang sakit ini. (*)
Catatan Akhir Pekan KH A Nawawi Maksum: Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa, Bondowoso
Sumber:










