Ketika Sabda Guru Mengalahkan Nabi

Sabtu 10-10-2026,08:10 WIB
Reporter : Ahmad Syaiku
Editor : Ferry Ardi Setiawan

BACA JUGA: Gempita Horeg: Pesta Rakyat atau Derita Warga

Kita sedang menyaksikan sebuah musim di mana takzim berubah wajah menjadi kultus. Orang-orang berilmu mendadak memiliki pengikut yang tidak hanya memuja, tetapi juga menjelma menjadi algojo moral. 

Mereka siap mencela, merundung, hingga menghukum siapa saja yang tidak segaris dengan alur pikir sang guru. Dan yang paling menyedihkan, para kiai yang dipuja itu kerap memilih bungkam, membiarkan para pemujanya merusak bangunan ukhuwah demi merawat sebuah keakuan kelompok.

BACA JUGA:Saat Kursi Lebih Silau dari Akhlak

Jika kita menengok cermin agama, pemandangan ini tentu asing. Islam lahir bukan untuk membekukan akal, melainkan memerdekakannya. Sebagaimana teladan para ulama besar yang selalu membentangkan ruang dialog dan menolak taklid buta, Imam Malik pernah berpesan dengan rendah hati bahwa setiap perkataan manusia bisa diterima atau ditolak, kecuali ucapan Nabi. 

Ketika ucapan manusia diagungkan secara mutlak, sementara sabda Nabi dicurigai dengan dalih sempit, di situlah akal sehat bergeser dari tempatnya.

BACA JUGA:Menata Ulang Nakhoda NU di Tengah Tantangan Abad Kedua

Dari jendela sosial-politik, gejala ini menghadirkan tirani baru di tingkat akar rumput. Demokrasi dan kebebasan berpikir mati perlahan di tangan massa yang tersetir oleh fanatisme.

Ruang publik yang semestinya menjadi taman sari pertukaran gagasan justru berubah menjadi gelanggang persekusi digital. Perbedaan pandangan diburu bagaikan musuh negara.

BACA JUGA: Politik Nurani dan Menjaga Marwah NU

Sementara di ruang kebudayaan, kita melihat betapa mentalitas feodal belum sepenuhnya tanggal dari jubah zaman kita. Budaya patron-kleien yang menempatkan figur di puncak piramida membuat orang malas melakukan tabayyun.


Gempur Rokok Illegal--

Lebih nyaman menjadi penonton yang ikut berteriak di kerumunan daripada berpikir jernih sendirian.

BACA JUGA: Menolak Risywah Politik: Menyelamatkan dari Cengkeraman Makelar Suara

Agama hadir untuk merajut kemanusiaan, bukan menjahit tirai perpecahan. Mencintai guru tidak menuntut kita untuk menutup mata pada kebenaran objektif, dan menghormati ulama tidak pernah berarti membiarkan diri menjadi pembenci yang gemar menebar sesat.

BACA JUGA:Menyelamatkan Porsi Anak Negeri

Kategori :

Terkait

Sabtu 10-10-2026,08:10 WIB

Ketika Sabda Guru Mengalahkan Nabi

Sabtu 03-10-2026,07:04 WIB

Data Manis, Bondowoso Menangis

Sabtu 19-09-2026,05:00 WIB

Ketika Paru-Paru Bumi Mulai Sesak

Sabtu 12-09-2026,06:00 WIB

Air Mata di SPBU