Cemburu buta membakar dada Ibra karena ia tahu Sasa masih sering mencari kabar tentang Umar. Hal ini memicu Ibra mengirim pesan ancaman kepada Umar. “Gue sudah bilang jangan ganggu Sasa.” “Gue gak pernah cari pacar lu,” balas Umar.
Kemarahan Ibra merembet hingga teman-teman Umar ikut diteror. Hingga seorang kawan Umar menegur: “Bro, lu salah marah.” “Maksud lu?” “Yang sering tanya kabar Umar itu Sasa.”
Malam itu, Ibra langsung mendatangi Sasa dan menuntut kejujuran: “Kamu masih sayang Umar?” “Kenapa tiba-tiba?” Sasa tersentak. “Jawab.” “Aku sama dia sudah selesai.” “Bukan itu pertanyaanku.” Ibra menatapnya tajam. “Kamu masih sayang dia atau enggak?” Sasa membisu. “Jadi benar?” “Aku gak tahu.” Ibra tertawa getir. “Gak tahu?”
BACA JUGA:Bayang Cinta Tanpa Kepastian (3): Sisa-Sisa Pesan yang Tak Sempat Pulang
Mini kidi--
Sasa mengakui bahwa dirinya memang masih sering mengingat Umar. Hal itu membuat Ibra bertanya dengan nada terluka mengenai posisinya. “Aku memang masih sering ingat dia.” “Aku mau kita selesai dulu,” kata Sasa mengakhiri. Wajah Ibra berubah pias. “Tidak. Aku gak mau putus.” “Aku capek.”
Ibra mulai meratap, “Apa pun yang kamu mau, kita cari jalan.” “Masalahnya bukan soal uang,” isak Sasa. Sikap Ibra yang posesif membuat Sasa semakin tertekan.
Di sisi lain, Umar yang risih karena teman-temannya ikut diganggu akhirnya menegur Sasa langsung: “Tolong selesaikan masalahmu sama Ibra tanpa bawa nama aku.” “Mar, maaf.” “Aku gak mau ribut sama pacarmu.” “Aku tahu.” “Teman-temanku juga mulai diganggu.”
BACA JUGA:Bayang Cinta Tanpa Kepastian (2): Garis Batas Masa Lalu dan Masa Depan
Gempur Rokok Illegal--
Sasa terbungkam. “Maaf.” Umar menarik napas panjang. “Sa, aku sama kamu sudah selesai.” “Aku tahu. Namun aku cuma…” Sasa tertegun di tengah kalimat. “Cuma apa?” “Aku kadang masih kepikiran kamu.” Umar tidak buru-buru menjawab. “Tentu pernah. Tapi mengingat bukan berarti harus kembali.” “Aku sekarang sudah punya seseorang.
Dan aku serius.” Umar melanjutkan Sasa membeku. “Serius sampai mana?” “Dia sudah kenal orang tuaku.” Kalimat itu meremukkan sisa pertahanan Sasa. “Tapi kalian beda agama, kan?” “Iya.” “Dia sedang belajar Islam. Kalau suatu hari dia memilih menjadi mualaf, itu harus karena keyakinannya sendiri. Bukan karena aku paksa.” Umar menjawab tanpa beban
Seketika seluruh celah harapan Sasa runtuh. Kini, Sasa terombang-ambing di persimpangan: bertahan dengan Ibra, atau merelakan Umar yang telah melangkah jauh ke masa depannya. (atp/rdh/fer/bersambung)