Data serta rekening yang telah selesai kemudian diserahkan kepada pihak berinisial BG alias CZ, BK, dan BA di sebuah apartemen di Kuala Lumpur, Malaysia.
Dalam proses tersebut, pembuatan perusahaan dan rekening dibiayai menggunakan aset kripto sebesar 33.984,01 USDT atau setara sekitar Rp 603,1 juta.
Penyidik juga menemukan KPP dan FR menerima uang hasil kejahatan dari korban melalui penyamaran dalam bentuk aset kripto menggunakan platform Indodax. Transaksi tersebut menggunakan akun KPP dengan username Errorsystems serta rekening PT Gala Bumi Nusantara.
"Dana kemudian ditarik atau dikirim ke sejumlah rekening, di antaranya rekening Bank BCA atas nama KPP dan rekening Bank BCA atas nama FR," urainya.
Sementara jaringan Vietnam beroperasi sejak Oktober 2025 hingga Juli 2026. WH awalnya dihubungi ADS melalui Telegram dengan nama WS. WH ditawari pekerjaan menerima telepon seluler dan membantu membuat rekening bank atas nama perusahaan.
"Kepada WH, pekerjaan tersebut disebut berkaitan dengan kebutuhan perusahaan inti untuk melakukan IPO (Initial Public Offering) di Bursa Efek Indonesia. WH kemudian mengatur dan memandu proses pembuatan rekening sejumlah perusahaan," paparnya.
Rekening itu di antaranya PT YWWSDC Digital Terpadu, PT Elliot Quant Korporat, PT Amundi Bersama Teknologi, PT Cantvr Data Universal, PT BTIG Layanan Teknologi, PT ZMC, PT Tekno Nusa Solutions, PT Novantara Digital Inti, PT Mitra Sistem Informasi, dan PT Inovasi Digital Inti.
"Dalam prosesnya, WH memberikan arahan kepada para direktur, menyediakan biaya operasional, serta mentransfer gaji dan biaya pembukaan rekening," ucapnya.
WH juga menggunakan rekening atas nama orang lain di Bank Sinarmas untuk kebutuhan operasional atas perintah ADS. Dalam grup Telegram perusahaan-perusahaan tersebut, WH menggunakan akun bernama Erik. Setelah selesai, data dan rekening diserahkan kepada ADS di Jakarta Barat.
"Pembuatan perusahaan dan rekening tersebut dibiayai menggunakan aset kripto sebesar 37.200,61278 USDT atau setara sekitar Rp 660,2 juta dari wallet pengirim yang belum diketahui," tuturnya.
WH juga diduga menerima uang hasil kejahatan melalui penyamaran dalam bentuk aset kripto menggunakan platform Indodax dengan akun atas nama WZ. Dana tersebut kemudian ditarik ke rekening Bank Sinarmas atas nama WZ.
Dalam pengungkapan tersebut, penyidik menemukan PT ZMC beserta enam rekening bank yang diduga digunakan sebagai penampung transaksi dari para korban. Enam rekening tersebut berada di BRI, BNI, dua rekening Bank Mandiri, BCA, dan Permata.
"Seluruh rekening tersebut telah diblokir dan disita penyidik. Nilai dana yang diamankan mencapai Rp 81.527.932.707. Pengungkapan ini menjadi bagian dari penyidikan jaringan scam trading saham dan kripto yang sebelumnya dilaporkan menyebabkan kerugian korban sekitar Rp 12 miliar," pungkasnya.
BACA JUGA:Berawal dari Laporan Penculikan, Kasus Scamming Internasional di Surabaya Terbongkar
Diberitakan sebelumnya, Direktorat Reserse Siber (Ditressiber) Polda Jatim mengungkap jaringan scam internasional trading saham dan kripto yang melibatkan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Warga Negara Asing (WNA) Malaysia serta Vietnam.