Ketika Paru-Paru Bumi Mulai Sesak

Sabtu 19-09-2026,05:00 WIB
Reporter : Ahmad Syaiku
Editor : Novi Triawan

Ada yang lelah di udara Jawa Timur bulan-bulan ini. Di lereng Semeru dan Tengger, abu vulkanik beradu dengan bara yang menjilat ranting-ranting kering, melahap ribuan hektare hutan yang semestinya menjadi napas kita.  

Tapi  kita  memilih  gampang.  Kita  sebut  semua  itu  sebagai  amuk  alam:  sebuah kebetulan yang kejam, seolah-olah bumi sedang marah tanpa sebab. 

BACA JUGA:Erupsi Gunung Semeru, BPBD Jatim Pastikan Aktivitas Warga Masih Aman dan Normal

Padahal  alam  jarang  sekali  menghukum  tanpa  alasan.  Letusan  yang  memuntahkan silika dan hutan yang ludes terbakar hanyalah bahasa yang paling jujur dari bumi yang kehabisan  napas.  Di  perkampungan  kaki  gunung,  warga  menutup  rapat  hidung mereka  menghadapi  pekatnya  debu  dan  asap,  sementara  warung-warung  kecil kehilangan pembeli dan roda pariwisata mendadak lumpuh total. 


Mini kidi-- 

Kita ribut memadamkan api di permukaan, tetapi sering kali lupa bahwa ada tangan-tangan manusia yang sejak awal sengaja bermain-main dengan bara demi kalkulasi laba dan longgarnya izin tata ruang. 

BACA JUGA:Cegah Pencemaran Bengawan Solo, Warga Kecamatan Gayam Gelar Aksi Jaga Bumi Kita

Di sinilah ironi itu berkelindan. Di balik kekeringan yang dieksploitasi, ada sekelompok warga marjinal yang paling dulu menanggung sesak di bawah tenda darurat. Negara kerap  datang  terlambat  dengan  solusi  yang  tambal  sulam,  seolah  bencana  ekologis hanyalah  agenda  tahunan  yang  bisa  diselesaikan  sekadar  dengan  distribusi  logistik jangka pendek. 

Padahal,  jauh  sebelum  para  pembuat  kebijakan  sibuk  merumuskan  retorika  di gedung-gedung  bertingkat,  kitab-kitab  suci  dan  para  ulama  telah  menitipkan peringatan yang terang. Imam Al-Qurthubi mengingatkan bahwa segala kerusakan di darat dan di laut murni lahir dari ulah tangan manusia yang melampaui batas. 

Di  jalur  yang  sama,  Muhammad  Tahir  Ibn  Asyur  dalam  Maqashid  Al-Syari'ah menegaskan bahwa merawat bumi bukan sekadar urusan estetika, melainkan syarat mutlak  untuk  melindungi  jiwa  manusia.  Membakar  hutan  atau  membiarkan keserakahan  merusak  ekosistem  bukanlah  sekadar  pelanggaran  administratif, melainkan pengkhianatan telanjang terhadap kehidupan itu sendiri. 

BACA JUGA:BMKG Pastikan Abu Vulkanik Anak Krakatau Tak Terdeteksi di 4 Bandara

Peringatan  para  ulama  itu  bukanlah  isapan  jempol  moral,  melainkan  hukum  besi peradaban  yang  berulang  kali  menagih  bayaran.  Dalam  lembar  hitam  sejarah kawasan  agraris  Al-Sawad  di  era  Kekhalifahan  Abbasiyah,  kita  menyaksikan bagaimana lembah Tigris dan Efrat yang mewarisi jaringan kanal kuno perlahan mati akibat eksploitasi ugal-ugalan dan kelalaian penguasa lokal.  

Ketika alam dibiarkan meradang tanpa perawatan, petaka ekologis menuntut balas: tanah  kehilangan  daya  hidup,  banjir  bandang  menyapu  lumbung,  dan  rantai kehidupan runtuh seketika. Para petani kecil di desa menanggung lapar sendirian, sementara pusat kekuasaan sibuk merajut intrik di balik tirai istana. 

Hari ini, ironi purba itu sedang kita pentaskan ulang di atas bumi Nusantara. Bencana di  Semeru  atau  Tengger  bukan  lagi  sekadar  urusan  cuaca  ekstrem,  melainkan cerminan dari rapuhnya komitmen struktural kita dalam menjaga ruang hidup. 

Maka, sudah saatnya kita berhenti bersandiwara di atas abu bencana. Hukum harus berani menatap tajam tanpa pandang bulu untuk menyeret siapa pun yang bermain api. Politik anggaran wajib bergeser dari sekadar sibuk memadamkan kebakaran menuju  pemulihan  ekosistem  jangka  panjang,  dan  warga  lokal  harus  diletakkan sebagai penjaga utama di rumah mereka sendiri. 

Kategori :