Ada yang lelah di udara Jawa Timur bulan-bulan ini. Di lereng Semeru dan Tengger, abu vulkanik beradu dengan bara yang menjilat ranting-ranting kering, melahap ribuan hektare hutan yang semestinya menjadi napas kita.
Tapi kita memilih gampang. Kita sebut semua itu sebagai amuk alam: sebuah kebetulan yang kejam, seolah-olah bumi sedang marah tanpa sebab.
BACA JUGA:Erupsi Gunung Semeru, BPBD Jatim Pastikan Aktivitas Warga Masih Aman dan Normal
Padahal alam jarang sekali menghukum tanpa alasan. Letusan yang memuntahkan silika dan hutan yang ludes terbakar hanyalah bahasa yang paling jujur dari bumi yang kehabisan napas. Di perkampungan kaki gunung, warga menutup rapat hidung mereka menghadapi pekatnya debu dan asap, sementara warung-warung kecil kehilangan pembeli dan roda pariwisata mendadak lumpuh total.
Mini kidi--
Kita ribut memadamkan api di permukaan, tetapi sering kali lupa bahwa ada tangan-tangan manusia yang sejak awal sengaja bermain-main dengan bara demi kalkulasi laba dan longgarnya izin tata ruang.
BACA JUGA:Cegah Pencemaran Bengawan Solo, Warga Kecamatan Gayam Gelar Aksi Jaga Bumi Kita
Di sinilah ironi itu berkelindan. Di balik kekeringan yang dieksploitasi, ada sekelompok warga marjinal yang paling dulu menanggung sesak di bawah tenda darurat. Negara kerap datang terlambat dengan solusi yang tambal sulam, seolah bencana ekologis hanyalah agenda tahunan yang bisa diselesaikan sekadar dengan distribusi logistik jangka pendek.
Padahal, jauh sebelum para pembuat kebijakan sibuk merumuskan retorika di gedung-gedung bertingkat, kitab-kitab suci dan para ulama telah menitipkan peringatan yang terang. Imam Al-Qurthubi mengingatkan bahwa segala kerusakan di darat dan di laut murni lahir dari ulah tangan manusia yang melampaui batas.
Di jalur yang sama, Muhammad Tahir Ibn Asyur dalam Maqashid Al-Syari'ah menegaskan bahwa merawat bumi bukan sekadar urusan estetika, melainkan syarat mutlak untuk melindungi jiwa manusia. Membakar hutan atau membiarkan keserakahan merusak ekosistem bukanlah sekadar pelanggaran administratif, melainkan pengkhianatan telanjang terhadap kehidupan itu sendiri.
BACA JUGA:BMKG Pastikan Abu Vulkanik Anak Krakatau Tak Terdeteksi di 4 Bandara
Peringatan para ulama itu bukanlah isapan jempol moral, melainkan hukum besi peradaban yang berulang kali menagih bayaran. Dalam lembar hitam sejarah kawasan agraris Al-Sawad di era Kekhalifahan Abbasiyah, kita menyaksikan bagaimana lembah Tigris dan Efrat yang mewarisi jaringan kanal kuno perlahan mati akibat eksploitasi ugal-ugalan dan kelalaian penguasa lokal.
Ketika alam dibiarkan meradang tanpa perawatan, petaka ekologis menuntut balas: tanah kehilangan daya hidup, banjir bandang menyapu lumbung, dan rantai kehidupan runtuh seketika. Para petani kecil di desa menanggung lapar sendirian, sementara pusat kekuasaan sibuk merajut intrik di balik tirai istana.
Hari ini, ironi purba itu sedang kita pentaskan ulang di atas bumi Nusantara. Bencana di Semeru atau Tengger bukan lagi sekadar urusan cuaca ekstrem, melainkan cerminan dari rapuhnya komitmen struktural kita dalam menjaga ruang hidup.
Maka, sudah saatnya kita berhenti bersandiwara di atas abu bencana. Hukum harus berani menatap tajam tanpa pandang bulu untuk menyeret siapa pun yang bermain api. Politik anggaran wajib bergeser dari sekadar sibuk memadamkan kebakaran menuju pemulihan ekosistem jangka panjang, dan warga lokal harus diletakkan sebagai penjaga utama di rumah mereka sendiri.