Dermaga Cinta Berduri (3): Pergi untuk Menyelamatkan Diri

Rabu 16-09-2026,06:00 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Mochamad Syaifudin

Malam itu, jarum jam seolah berputar lebih lambat di kamar Titi. Pesan singkat yang baru saja dikirimkannya terpaku di layar ponsel, berdengung sunyi tanpa balasan seketika dari Elan. “Aku gak gak pernah lupa semua kebaikanmu, Lan. Tapi aku juga gak bisa terus pura-pura lupa pada semua luka yang kamu buat.”

Sunyi. Lalu, bagai sambaran petir di tengah gulita, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Elan. Titi menatap layar itu dengan jantung yang berdegup liar. Jari-jarinya terasa membeku. Dibiarkannya benda gepeng itu menjerit nyaring. Sekali. Dua kali. Sampai belasan kali.

Tak lama berselang, deretan gelembung pesan beruntun menyerbu masuk, merobek pertahanan dada Titi yang sedari tadi bergidik ngeri. “Aku minta maaf.” “Aku janji gak akan kasar lagi.” “Kasih aku kesempatan terakhir.”

BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (1) Saat Cinta Membawa Kehangatan dan Ketakutan


Mini kidi--

Pertahanan Titi jebol seketika. Air matanya tumpah ruah membasahi pipi, meleleh bersama kepedihan yang teramat sangat. Bukan, bukan karena rasa cintanya telah menguap entah ke mana. Justru karena sisa-sisa cinta itu masih bersarang kuat di lubuk hatinya yang paling dalam, keputusan drastis untuk melangkah pergi ini terasa begitu menyiksa, menghimpit dadanya hingga nyaris tak bisa bernapas.

Hari-hari berikutnya Elan menjelma menjadi bayangan yang tak mau enyah. Lelaki itu mendadak hadir di setiap jengkal ruang gerak Titi. Terkadang muncul menenteng kantong makanan kesukaannya, terkadang hanya berdiri mematung di sudut jalan demi secuil kata untuk meredakan amarah.

Sialnya, Elan kembali pada sosok jantan yang dulu sukses merontokkan pertahanan Titi di awal pertemuan mereka. Penuh perhatian. Lembut luar biasa. Dan berlimpah penyesalan yang tampak begitu tulus di matanya yang sayu.

BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (2): Menimbang Kebaikan, Menghitung Luka


Gempur Rokok Illegal--

“Aku tahu aku salah.” Titi hanya mampu menunduk, menyembunyikan gemetar di bibirnya. “Aku bisa berubah, Ti.” “Kamu sudah bilang begitu berkali-kali.”Titi mendongak, menghujamkan tatapan nanar ke manik mata lelaki itu. “Kali ini serius.” Elan terdiam, terpaku telak oleh kepahitan yang ia ciptakan sendiri. “Aku juga berkali-kali percaya.” Air mata Titi kembali melompat jatuh, menjadi saksi bisu atas kerapuhan dua insan. “Aku masih sayang kamu.”

Titi bungkam seribu bahasa. Ia sendiri sudah kehilangan kompas di dalam dadanya; tak mengerti lagi apakah benih cinta itu benar-benar telah mati, atau sekadar terkubur hidup-hidup di bawah reruntuhan luka lebam yang teramat banyak. (atp/rdh/fer/bersambung)

 

Kategori :