Ketika Game Jadi Orang Ketiga (5): Realita Pahit Pecandu Game

Jumat 04-09-2026,05:16 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Mochamad Syaifudin

Malam itu, pesan dari Nadira hanya menggantung tanpa balasan yang berarti dari tangan Wisnu yang terlampau sibuk. “Aku cuma mau lihat satu hal: kalau tidak ada yang mengingatkanmu, kamu akan memilih berubah sendiri atau tidak.”

Layar ponselnya berkedip-kedip keji, menggoda lewat sisa waktu event terbatas dan kilau hadiah eksklusif. Wisnu merenung sejenak, membiarkan kebimbangan mencabik perasaannya, sebelum jemarinya kembali membuka aplikasi game itu. 

Ia kembali tenggelam. Bukan karena cintanya pada Nadira telah luntur dimakan usia, atau karena sehelai skin maya lebih berharga ketimbang perempuan yang setia mendampinginya bertahun-tahun. Kebodohannya berpijar pada satu keyakinan semu: ia selalu merasa hari esok masih terbentang luas untuknya berubah.

BACA JUGA:Ketika Game Jadi Orang Ketiga (4): Pilihan Terakhir di Atas Kaca Ponsel


Mini kidi--

Beberapa minggu berlalu, dan Nadira menepati sumpahnya dengan dingin. Tiada lagi omelan yang dulu terasa memekakkan, tiada lagi pertanyaan rutin yang menyayat hati: “Sudah top up berapa?”

Tak ada lagi pemeriksaan dompet, tak ada lagi peringatan untuk menyisihkan uang masa depan. Bahkan manakala Wisnu merintih kehabisan uang, Nadira hanya membalasnya dengan hambar, “Oh.” Awalnya, kesunyian itu meracuni Wisnu dengan rasa nikmat yang melenakan. Tiada lagi amarah, tiada lagi aturan yang mengekang; ia merasa menjadi raja atas kebebasannya sendiri. 

Namun, kesadaran itu datang merayap bagai racun perlahan. Nadira pun berhenti mengungkit tentang bahtera rumah tangga. Lenyap sudah kiriman gambar rumah mungil idaman mereka, lenyap pula angan-angan tabungan bersama, sirna sudah kalimat manja, “Nanti kalau kita sudah menikah…” Seolah-olah, nama Wisnu telah dihapus bersih dari peta masa depan perempuan itu.

BACA JUGA:Ketika Game Jadi Orang Ketiga (3): Saat Gaji Habis dan Cinta Mulai Menipis


Gempur Rokok Illegal--

Cobaan hidup kian menghimpit tatkala ia melangkah ke ruang kantor. “Pinjam dulu, nanti gajian gue ganti.” Temannya menggeleng tegas, menatapnya dengan sorot mata meremehkan. “Maaf, Nu.” Darah Wisnu mendidih seketika. “Cuma sejuta.” “Bukan nominalnya.” “Lalu?” “Sudah terlalu sering.”

Wisnu mendengus gusar, namun temannya meneruskan tikaman kata-kata yang telak, “Lu sebenarnya bukan kekurangan uang.” Wisnu tertegun, menatap tajam penuh amarah. “Lu punya gaji. Orang tua lu masih bantu. Tapi semuanya selalu habis.” Telunjuk temannya menuding tepat ke layar ponsel Wisnu. “Jadi kalau sekarang gue kasih pinjaman, sebenarnya gue bukan membantu lu. Gue cuma membantu kebiasaan itu terus hidup.”

Untuk pertama kalinya dalam hidup, tiada satupun uluran tangan yang sudi menyelamatkannya. Wisnu merasa dunia telah menghempaskannya seorang diri, padahal mereka hanya berhenti membiarkan Wisnu tenggelam dalam kubangan kebodohannya sendiri. (atp/rdh/fer/bersambung)

 

Kategori :