Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (2): Ketika Hantu Masa Lalu Datang Mengetuk
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga sedang berduaan.--
Di bawah temaram lampu jalan, Isa dan Eka duduk berhadapan membawa tumpukan bagasi masa lalu. “Kenapa sekarang?” tanya Isa, suaranya parau. Eka menatapnya lurus. “Karena aku capek bohong sama diriku sendiri.” “Bohong apa?” “Bahwa kamu cuma masa lalu.” “Jangan mulai.”
Isa membuang muka. “Aku serius.” “Ka, tiga puluh tahun.” “Aku tahu.” “Kita sudah berkali-kali mencoba.” “Aku juga tahu.” “Dan siapa yang berkali-kali pergi?” Eka terdiam. Isa menatapnya tajam. “Kamu.” Eka tidak mengelak. “Aku tahu.” “Aku pernah butuh kamu banget,” kata Isa, air matanya runtuh. “Tapi kamu gak ada.”
BACA JUGA:Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (1): Kisah yang Menolak Selesai

Mini kidi--
Eka menunduk. “Aku ingat.” “Enggak. Kalau kamu benar-benar ingat, kamu pasti ngerti kenapa sekarang aku takut.” “Aku ngerti.” Isa menggeleng. “Kamu gak ngerti. Aku bukan takut jatuh cinta lagi sama kamu. Aku takut setelah aku percaya lagi, kamu pergi lagi ketika aku paling membutuhkanmu.”
Eka menunduk, lalu berbisik pelan, “Aku minta maaf.” Isa tertawa getir. “Sudah tiga puluh tahun, Ka.” “Aku tahu.” “Maaf gak bisa mengubah semuanya.” “Aku juga tahu.” “Lalu kamu mau apa?” Eka mengangkat wajahnya. “Kesempatan untuk membuktikan kalau kali ini aku bisa tinggal.” Isa menolak. Namun, Eka tidak beranjak. Hari berganti minggu, ia tetap di sana, melewati hari-hari tanpa menghilang seperti dulu.
BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (6): Akhir Sebuah Dermaga Cinta

Gempur Rokok Illegal--
Hingga suatu hari Isa bertanya dengan jengkel, “Kok masih di sini?” Eka tersenyum tipis. “Kamu maunya aku pergi?” “Dulu kamu gampang banget pergi.” Wajah Eka menegang. “Kali ini enggak.” Isa menatapnya lekat-lekat. “Jangan janji.” Eka mengangguk. “Baik.” “Lalu?” “Lihat saja.”
Malam itu Isa pulang dengan langkah yang terasa asing. Ada ketakutan yang merayap di balik selimut kamarnya, tetapi jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang lebih mengerikan yang mulai tumbuh dan ia benci untuk mengakuinya: harapan.
Tiga puluh tahun berlalu, dan hantu masa lalu itu kini berdiri tepat di ambang pintu rumahnya. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:







