Kenyang dalam Dusta

Selasa 14-07-2026,08:09 WIB
Reporter : Ahmad Syaiku
Editor : Muhammad Ridho

"Sudah, May. Tadi Bapak makan banyak sekali di pasar. Ada hajatan mandor, kenyang sekali sampai sulit napas," ucapnya dengan nada riang yang dibuat-buat. Sebuah kedustaan suci demi senyuman anaknya. "Ini, Bapak bawakan lauk ayam. Dimakan ya, biar hafalanmu tetap kuat."

"Makan bareng, Pak..." pinta May, tangisnya pecah saat membuka bungkusan itu.

Latif menggeleng, aktingnya sebagai orang yang kekenyangan begitu sempurna. "Bapak masih sangat kenyang, Nak. Kamu habiskan ya. Bapak cuma ingin lihat kamu makan enak hari ini."

BACA JUGA:Maaf dan Dendam

Padahal, sejak pagi perut Latif hanya berisi air putih. Ia adalah pembohong besar yang rela lambungnya terlilit perih, asal tidak ada rasa bersalah yang membebani May saat menelan setiap suap nasi itu. Baginya, kenyang yang sesungguhnya adalah melihat anaknya makan dengan lahap.

"Pak," suara May lirih di tengah isak tangisnya. "May sudah hafal 15 juz. May mau kasih mahkota buat Bapak di surga nanti."

Mendengar itu, pertahanan sang pembohong handal itu runtuh. Air matanya mengalir hangat. "Teruskan, Nak. Biar Bapak yang terbakar matahari di jalanan, asal nanti kamu yang menuntun Bapak masuk ke pintu surga. Bapak nggak punya harta, May... cuma keringat ini yang bisa Bapak kasih."

Sore itu, Latif mengayuh sepedanya menjauhi pesantren dengan perut kosong, namun jiwanya terasa penuh. Di dalam asrama, May bersujud lama, berjanji dalam setiap ayat yang ia hafal: keringat ayahnya tidak akan pernah sia-sia. Di bawah langit Nurut Taqwa, ada cinta yang lebih mahal dari emas; cinta seorang ayah yang rela menjadi pembohong demi "mengenyangkan" hati sang buah hati.

~ A. Nawawi Maksum ~

(Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso)

Kategori :