Harlah Kejaksaan RI
iklan ulta memorandum

Surat untuk Ibu

Surat untuk Ibu

A. Nawawi Maksum, Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso--

Ibu, tadi aku melihat temanku merayakan suksesnya sambil memeluk ibunya. Dia mencium tangan wanita itu, menangis di bahunya, lalu memanjakan hari-hari tuanya tanpa beban.

Di detik itu, dadaku mendadak seperti ditusuk pisau. Sumpah, aku iri. Aku benci melihat takdir yang seakan tak adil ini.

BACA JUGA: Gempita Horeg: Pesta Rakyat atau Derita Warga


Mini kidi--

Kenapa pintu ini baru terbuka saat tubuhmu sudah kaku? Kenapa rezeki ini baru deras sekarang, saat aku hanya bisa memeluk nisan yang dingin, meratapi piring makanmu yang kosong, dan menciumi bantal yang tertinggal sisa aromamu?

Aku capek, Bu. Aku benci harus pulang membawa kabar baik, tapi tidak ada lagi orang yang bisa kuajak bicara, selain dinding kamar dan pigura fotomu. 

BACA JUGA:Saat Kursi Lebih Silau dari Akhlak

Ingin sekali aku rebahan di pangkuanmu, mengadu betapa lelahnya aku berjuang sendirian selama ini, lalu mendengarkan suaramu yang bilang kalau semuanya akan baik-baik saja. Tapi yang kudengar sekarang cuma kebisuan.

Rindu ini sialan beratnya, Bu. Maaf kalau malam ini anakmu menangis meraung-raung, menggugat waktu yang merampas kesempatan berbakti. 

BACA JUGA:Rompi Oranye Akhiri Sebuah Kekuasaan


Gempur Rokok Illegal--

Peluk aku lewat angin malam, karena pundakku sudah teramat remuk menahan sesak ini.

Tunggu aku di sana, ya... 

Semoga kelak, di tempat yang tidak ada lagi air mata, aku bisa jadi orang pertama yang berlari memelukmu erat-erat.

Sumber: