Segitiga Cinta (5) Saat Rasan-rasan Tetangga Menguliti Rahasia Rumah Tangga

Kamis 09-07-2026,20:44 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Udin

Air mata itu akhirnya mengering juga. Bukan karena telaga duka di hati Rara telah sirna, melainkan karena ia menyadari, bulir-bulir bening yang jatuh ke bumi takkan pernah mampu memutar kembali jarum jam yang telah patah.

Rara tak lagi butuh untaian kata maaf, tidak pula untaian kalimat penjelas yang hanya akan menambah perih luka di dadanya. Yang ia butuhkan kini adalah sebuah ketegasan. Ketegasan seorang wanita yang harga dirinya telah diinjak-injak.

Sore itu, senja merayap masuk ke dalam ruang kerja mereka, membawa serta hawa dingin yang mencekam. Di atas meja jati, sebuah map cokelat tergeletak bisu. Di dalamnya tersimpan lembaran-lembaran dosa: potret tiruan malam, angka-angka transferan yang menjadi saksi bisu sebuah pengkhianatan, dan rekaman suara yang menyayat hati—semua hasil telisik Satrio.

BACA JUGA:Segitiga Cinta (4): Asmara Terlarang, saat Kelembutan Istri Telah Mati


Mini Kidi Wipes.--

Bima membuka map itu dengan jemari yang tiba-tiba bergetar. Lembar demi lembar dibaliknya, dan bersamaan dengan itu, darah seolah tersedot dari wajahnya. Pias. Pucat bagai mayat.

"Kau... kau memata-mataiku, Rara?" suara Bima bergetar, parau menembus keheningan.

Sebuah senyuman tipis, sarat akan kepedihan yang teramat sangat, mengembang di bibir Rara. "Aku tidak memata-mataimu, Mas. Aku hanya menjemput kebenaran yang kaubungkus rapat-rapat."ucap Rara

Ruangan itu mendadak menjelma menjadi ruang sidang batin yang sunyi. Lidah Bima yang biasanya pandai merangkai kata, kini mendadak kelu. Tak ada lagi celah untuk berdusta. Maka, dengan sisa keberanian yang entah dari mana datangnya, kalimat jahanam itu meluncur juga dari bibirnya.

"Aku mencintai Lasmi..." Sebuah pengakuan yang jujur, namun terasa bagai hantaman gada besi di dada Rara. Rara memejamkan matanya rapat-rapat, menahan badai yang berkecamuk di dalam jiwa.

"Tuhan... tiga puluh dua tahun mengayuh bahtera rumah tangga, runtuh seketika hanya dalam satu tarikan napas!" Gumam Rara. 

"Jika itu maumu..." ucap Rara, suaranya nyaris tak terdengar, bergetar menahan rintih. "Aku takkan lagi mengemis agar kau tetap tinggal."ucap Rara.

BACA JUGA:Segitiga Cinta (3): Duri Pengkhianatan di Balik Senyum Palsu Suami


Gempur Rokok Illegal--

Hari-hari berganti, dan badai yang semula berbisik di balik dinding rumah akhirnya meledak menjadi konsumsi rasan-rasan tetangga. Desas-desus itu merayap lebih cepat daripada kabun senja. Dari satu teras ke teras lain, dari tukang sayur keliling hingga obrolan ibu-ibu di pos ronda, nama Rara, Bima, dan Lasmi menjadi menu utama yang tak pernah hambar dibahas.

"Sudah dengar, Jeng? Pak Bima itu lho... tega-teganya sama Bu Rara. Bertahun-tahun menikah, ditinggal demi si Lasmi!" bisik Bu Tejo, matanya berbinar penuh gairah saat memilih kangkung.

"Ya ampun, benar-benar tidak tahu diuntung ya, Bu," timpal Bu RT, geleng-geleng kepala sembari memilah cabai. "Sudah tua keladi, makin tua makin jadi! Mungkin setelah ini akan dinikahi tuh si Lasmi atau nggak jadi istri yang kedua, itupun kalau si Bu Rara mau di madu." Cetus Bu Sri sambil membayar benjaannya ke tukang sayur.

Rara tahu betul namanya sedang dikunyah oleh bibir-bibir yang haus akan drama. Setiap kali ia melangkah keluar rumah untuk sekadar menyiram tanaman atau membeli keperluan dapur, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah.

Bagi Rara, rasan tetangga adalah ujian kedua setelah pengkhianatan Bima. Namun, jika mereka mengira Rara akan mengurung diri, menangis meratapi nasib, dan menjadi wanita malang yang tak berdaya, mereka salah besar. (atp/rdh/fer/bersambung)

Kategori :