Hening kembali merajai. Bintang merasakan kepedihan yang luar biasa. Di depannya kini, Bulan seolah menjelma menjadi sosok asing. Ia tak lagi bicara dengan istrinya tercinta, melainkan dengan bisikan-bisikan serakah yang telah merasuki jiwa Bulan.
Hari yang ditakutkan tiba. Pesta ulang tahun sang ibu mertua digelar mewah. Di tengah denting sendok dan tawa basa-basi keluarga besar, sebuah drama kepalsuan dimulai. Tiba-tiba, ibu Bulan berdeham, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Bintang. “Beruntung ya, Bulan ini dapat suami seperti Bintang.”ucap salah satu keluarga besar Bulan. “Iya, Bu… beruntung sekali.”Keluarga yang lain menyahut riuh. “Rezekinya memang banyak… tapi sayang, hatinya masih sempit!”ucap ibu mertua Bintang. JEDARR! Kata-kata itu bagai petir di siang bolong. Meja makan mendadak senyap bagai kuburan. Semua mata tertuju pada Bintang, menanti ledakan amarah atau air mata kehancuran. Namun, tak satu pun jiwa di sana yang membela Bintang. Tidak juga Bulan. Wanita itu hanya menunduk, membiarkan suaminya diinjak-injak demi kepuasan ibunya. BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (3): Angin Badai di Ujung CintaMini Kidi Wipes.-- Dengan keanggunan seorang lelaki yang terluka namun tetap terhormat, Bintang meletakkan sendoknya perlahan. Ia berdiri, menatap ibu mertuanya tanpa dendam, hanya ada kekosongan yang teramat dalam. “Maaf, Bu,” ucap Bintang, suaranya bergetar menahan gejolak di dada. “Kalau selama ini apa yang saya berikan masih kurang… saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.”imbuh Bintang. “Bukan kurang, Bintang. Tapi BELUM CUKUP!” Ibu Bulan menyunggingkan senyum kemenangan yang kejam. Dua kata itu menghantam ulu hati Bintang hingga ia nyaris terjungkal. Bertahun-tahun hidup Bintang digadaikan. Tenaga, pikiran, materi, bahkan harga dirinya telah ia serahkan demi keluarga ini. Namun malam itu ia sadar, di hadapan manusia yang buta karena harta dan mengukur kasih sayang dengan lembaran rupiah, pengorbanan setinggi gunung pun tak akan pernah ada kata cukup. Malam makin larut ketika mobil tua mereka membelah jalanan yang sepi. Di dalam kabin, kesunyian terasa begitu mencekik. Bintang memegang kemudi, matanya menatap lurus ke depan, menembus kegelapan malam. “Bulan…” ucap Bintang memecah keheningan yang menyiksa. “Iya, Mas…” sahut Bulan, suaranya bergetar, menyadari ada sesuatu yang retak di antara mereka. “Aku memeras keringat dari pagi buta hingga malam pekat, bukan untuk pamer pada dunia bahwa kita kaya. Aku bekerja taruhan nyawa agar anak-anak kita tidak kelaparan kelak!”kesal Bintang. BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (2): Badai Rumah Tangga di Tangan Mertua
Gempur Rokok Illegal-- Ia menorehkan tatapan paling terluka pada wanita di sampingnya. Tak lama setelah ucapan kekesalan dilontarkan ia mengungkapkan isi hatinya kepada istrinya. “Jika suatu hari nanti… aku benar-benar berhenti memberikan sepeser pun uangku untuk keluargamu…” Bintang sengaja menjeda kalimatnya. “…Apakah cintamu padaku juga akan ikut berhenti?”ucap Bintang. Bulan tercekat. Tenggorokannya menyempit, air matanya merebak jatuh membasahi pipi. Ia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Sebab di detik itu, di bawah kesaksian malam yang dingin, Bulan menyadari bahwa bahtera rumah tangga mereka tengah berada di tepi jurang kehancuran. Bukan karena wanita lain, bukan karena lelaki lain. Melainkan karena cinta mereka yang suci kini perlahan-lahan mati, kalah oleh tuntutan duniawi yang serakah dan tak pernah mengenal batas akhir. (atp/rdh/fer/bersambung)