iklan bhayangkara
Pildun Banner

Antara Cinta dan Harta (5): Janji yang Kini Mulai Dikhianati

Antara Cinta dan Harta (5): Janji yang Kini Mulai Dikhianati

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Rumah berdinding putih itu kini seakan kehilangan jiwanya. Bukan karena Bintang telah berhenti memeras keringat di belantara kota. Melainkan karena mahligai yang mereka bangun dengan air mata dan cinta, kini tak lagi dikemudikan oleh dua hati yang telah mengikat janji di hadapan Tuhan.

Ada tangan-tangan tak terlihat yang ikut mencampuri kemudi. Ada suara-suara sumbang dari luar yang menuntut, memaksa, dan merobek ketenangan yang selama ini dijaga setengah mati.

Sore itu, sang surya belum sepenuhnya tenggelam ketika Bintang melangkah memasuki rumah. Di ruang tamu yang biasanya tenang, telah duduk ibu mertuanya didampingi oleh adik iparnya. Wajah-wajah itu tegang, menyimpan sebuah ambisi yang disamarkan oleh senyuman dingin.

"Bintang, duduklah. Ibu mau bicara baik-baik," ujar sang ibu mertua, nadanya datar namun sarat akan penekanan. "Iya, Bu. Ada apa?" Bintang duduk, mencoba mengusir firasat buruk. "Kau tentu tahu, adik iparmu mendapat peluang emas untuk membuka cabang usahanya."ucap Ibu Mertua. "Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Bintang ikut senang."jawab Bintang.

BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (4) Harga Diri di Tepi Jurang Bahtera Cinta


Mini Kidi Wipes.--

Sang ibu menarik napas dalam, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Bintang.  "Tapi kami butuh modal besar. Ibu mau sertifikat rumah kalian ini dijadikan jaminan pinjaman ke bank."ujar Ibu Mertua.

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar seketika. Darah Bintang berdesir hebat, menjalar menjadi rasa dingin yang membekukan sendi-sendinya.

Rumah pertama yang mereka beli dengan cara mencicil, menghemat uang belanja, bahkan menahan lapar demi selembar demi selembar kertas tebusan. Tempat mimpi-mimpi indah dirajut. Dengan sisa ketenangan yang dipaksakan, Bintang menatap ibu mertuanya. "Maaf, Bu... kalau untuk hal yang satu itu, saya tidak bisa."tegas Bintang

Seketika itu juga, senyum palsu di wajah sang mertua lenyap, digantikan oleh kilatan amarah yang menyala. "Kenapa kau begitu, Bintang?"tanya Mertuanya. "Ini satu-satunya aset yang kami miliki untuk masa depan anak-anak, Bu."tegas Bingang.

"Ibu ini keluargamu! Bulan adalah anakku!" suara wanita tua itu mulai meninggi, memecah kesunyian rumah. "Kalau dengan keluarga sendiri saja kau begitu perhitungan dan pelit, untuk apa kau menumpuk harta? Di mana hatimu sebagai menantu?!"imbuhnya

Bintang terdiam. Dadanya sesak bagai dihantam godam yang amat besar. Dipandangnya wanita tua di hadapannya dengan tatapan terluka, lalu dengan suara yang teramat lirih namun tegas.

"Saya selalu siap membantu keluarga dengan kemampuan yang saya miliki, Bu. Tapi, saya tidak akan pernah mempertaruhkan atap tempat berlindung istri dan anak-anak saya. Itu harga mati."tegas Bintang. "Oh, jadi sekarang kau sudah berani melawan orang tua?" Sang mertua berdiri dengan tubuh gemetar menahan amuk.

Bintang menghela napas pasrah, jiwanya lelah. "Bagi saya..." Ia menoleh, menatap Bulan yang sejak tadi hanya terdiam membisu di sudut ruangan. "...istri dan anak-anak saya adalah prioritas utama yang harus saya lindungi terlebih dahulu."ucap Bintang

BACA JUGA:Antara Cinta dan Harta (3): Angin Badai di Ujung Cinta


Gempur Rokok Illegal--

Suasana mendadak mencekam. Sunyi yang menyakitkan. Namun, belati yang paling tajam justru menghujam jantung Bintang beberapa detik kemudian, ketika Bulan perlahan bangkit berdiri dan mendekatinya.

"Mas..." panggil Bulan, suaranya bergetar ragu. "Iya, Bulan?"ucap Bintang. "Kalau memang sertifikat itu bisa menolong Ibu dan adikku, kenapa kita tidak mencobanya."ucap Bulan.

Bintang memandang istrinya dengan tatapan yang hancur berkeping-keping. Ada rasa kecewa yang teramat dalam, ada kesedihan yang tak tertahankan, dan ada ketidakpercayaan yang meremukkan jiwanya.

Wanita yang dicintainya, yang berjanji akan sehidup semati dengannya, justru ikut menusuknya dari belakang. "Jadi menurutmu, Bulan... kita harus mempertaruhkan rumah tempat anak-anak kita berteduh?" suara Bintang nyaris berupa bisikan yang sarat akan kepedihan.

"Ibu tidak mungkin mencelakakan kita, Mas. Ibu hanya butuh bantuan." Bulan menunduk, air matanya mulai mengalir membasahi pipi.

Bintang tersenyum, sebuah senyuman pahit yang lebih menyayat hati ketimbang tangisan.  (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait