SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Sebuah penelitian terbaru dari Texas A&M University mengungkapkan bahwa kopi mungkin memiliki peran yang jauh lebih krusial daripada sekadar minuman penambah energi.
Para peneliti dari Center for Translational Cancer Research menemukan bahwa kafein dapat berfungsi sebagai saklar "on/off" untuk alat pengeditan gen, yang membuka peluang besar dalam efektivitas pengobatan kanker di masa depan.
BACA JUGA:Antara Ambisi dan Kesehatan Mental: Mengapa Gen Z Beralih ke Slow Living?
Mini Kidi Wipes.--
Dalam laporan yang diterbitkan melalui jurnal Chemical Science, tim peneliti menjelaskan bahwa mereka berhasil menciptakan "caffebodies", yaitu nanobodi hasil rekayasa genetika yang dirancang khusus untuk merespons kafein.
Teknologi ini bekerja dengan cara memasangkan caffebodies dengan alat pengedit gen CRISPR sebelum dimasukkan ke dalam sel. Saat kafein masuk ke dalam sistem tubuh, zat tersebut akan memicu caffebodies untuk mengaktifkan CRISPR guna melakukan modifikasi genetik tertentu.
Proses ini bersifat sementara; modifikasi akan berhenti secara otomatis segera setelah kafein keluar dari sistem tubuh manusia dalam beberapa jam.
BACA JUGA:Pacaran Virtual Kian Diminati Gen Z, Cerminan Pergeseran Pola Hubungan di Era Digital
Ayo bolo kita gempur rokok ilegal.--
Pemilihan kafein sebagai pemicu bukan tanpa alasan. Profesor Yubin Zhou, direktur pusat penelitian tersebut, menyatakan bahwa kafein adalah zat yang telah diteliti secara luas, mudah diakses, dan memiliki efek samping yang lebih minim dibandingkan opsi pemicu kimia lainnya. Harapannya, dokter di masa depan dapat menggunakan asupan yang sudah akrab dengan masyarakat untuk mengontrol terapi gen yang kompleks secara aman dan presisi.
Teknologi ini diprediksi menjadi solusi atas masalah efek samping pada terapi sel T CAR, sebuah metode pengobatan kanker yang menggunakan sel imun hasil rekayasa. Selama ini, terapi tersebut seringkali aktif secara terus-menerus sehingga berisiko memicu respons imun yang berlebihan.
BACA JUGA:Makna Hari Kartini di Mata Gen Z: Masih Relevan atau Sekadar Formalitas Tahunan
Dengan adanya sistem kendali berbasis kafein ini, dokter dapat mengaktifkan atau menonaktifkan sel terapi sesuai kebutuhan pasien. Selain untuk kanker, teknologi caffebodies ini juga berpotensi digunakan untuk memicu produksi insulin bagi penderita diabetes.
Walaupun saat ini penelitian masih terbatas di laboratorium dan belum masuk ke tahap uji klinis pada manusia, penemuan ini memberikan harapan baru dalam dunia medis di mana secangkir kopi suatu saat nanti bisa menjadi bagian penting dari perawatan kesehatan personal.