ITS Kembangkan BBM dari Sawit, Lebih Efisien dan Rendah Emisi

Kamis 09-04-2026,08:59 WIB
Reporter : Lailatul Nur Aini
Editor : Muhammad Ridho

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Upaya mencari solusi krisis energi terus melahirkan inovasi. Tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan bahan bakar alternatif baru berbasis kelapa sawit yang dinamai biogasoline atau bensin sawit (Benwit), dengan efisiensi tinggi dan emisi lebih rendah.

Inovasi ini digagas oleh dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Hosta Ardhyananta bersama timnya. Mereka mengembangkan metode konversi minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) menjadi bahan bakar setara bensin yang siap digunakan.

"Fokus kami adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit menjadi biogasoline dengan residu seminimal mungkin, sehingga efisien sekaligus ramah lingkungan," kata Hosta, Kamis, 9 April 2026.

BACA JUGA:Pakar ITS Nilai Infrastruktur Transportasi Jatim Kian Baik Jelang Mudik Lebaran


Mini Kidi Wipes.--

Dalam proses awal, tim menggunakan metode catalytic cracking dengan katalis alumina (γ-Al₂O₃) untuk memecah molekul besar menjadi hidrokarbon ringan. Namun, metode ini masih membutuhkan suhu tinggi hingga 420 derajat Celsius dan menghasilkan konversi sekitar 60 persen.

Pengembangan lanjutan menghadirkan terobosan signifikan. Tim ITS menggunakan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO). Kombinasi ini mampu meningkatkan efisiensi proses dengan menurunkan suhu operasi menjadi 380 derajat Celsius serta meningkatkan hasil biogasoline hingga 83 persen.

"Dengan katalis bimetalik ini, proses menjadi lebih efisien. Suhu bisa ditekan, tetapi hasil justru meningkat signifikan," ungkap Hosta.

BACA JUGA:Pemindahan Pusat Pemerintahan Kabupaten Mojokerto Jangan Abaikan 10 Rekomendasi ITS


Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--

Produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek (C5–C11), komponen utama dalam bensin komersial. Bahkan, produk samping berupa gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor, sementara residu cair bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain.

"Residu cair yang dihasilkan memiliki karakteristik seperti minyak, sehingga masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor. Ini mendukung konsep minim limbah," imbuhnya. 

Tak hanya efisien, inovasi ini juga mengedepankan konsep ramah lingkungan. Berdasarkan analisis siklus hidup (life cycle assessment), produksi biogasoline dari sawit memiliki jejak karbon rendah dan mendukung konsep zero emission.

"Sistem yang kami kembangkan mengarah pada zero emission, karena hampir semua produk samping bisa dimanfaatkan kembali," terang Hosta.

BACA JUGA:Jaga Kenyamanan Ibadah Ramadan, Ditsamapta Polda Jatim dan Dinsos Komitmen Tertibkan Gepeng

Tags :
Kategori :

Terkait