DPRD Jawa Timur Minta Pemprov Jatim Siaga Hadapi Godzilla El Nino

Senin 06-04-2026,08:14 WIB
Reporter : Rakhmat Hidayat
Editor : Muhammad Ridho

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Ancaman fenomena Godzilla El Nino yang diprediksi menghantam Jawa Timur pada April hingga Oktober 2026 mulai memantik kewaspadaan serius. DPRD Jawa Timur pun mendesak Pemprov agar tidak lengah menghadapi potensi krisis air bersih dan gangguan pangan dalam skala besar.

Anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim, Ony Setiawan, menegaskan perlunya langkah antisipatif lintas sektor sejak dini. Ia mengingatkan, fenomena ini bukan sekadar siklus tahunan, melainkan anomali iklim ekstrem yang berpotensi menimbulkan dampak luas.

BACA JUGA:Kinerja BUMD Disorot, Pansus DPRD Jatim Siapkan Rekomendasi Berbasis Data


Mini Kidi Wipes.--

Istilah Godzilla El Nino sendiri merujuk pada pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang jauh di atas normal. Kondisi ini diperparah dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang menghambat pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

“Melalui Komisi B DPRD Jatim, kami meminta pemerintah provinsi menyiapkan langkah antisipatif menghadapi kekeringan ekstrem ini, khususnya dinas yang berkaitan dengan pangan seperti pertanian, peternakan, serta kelautan dan perikanan agar melakukan koordinasi intensif dengan BPBD,” ujar anggota Komisi B DPRD Jatim ini.

Jika terjadi, intervensi sosial dinilai perlu diperkuat untuk melindungi masyarakat rentan di wilayah terdampak. “Jangan sampai Jawa Timur yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan justru terpukul akibat kekeringan. Antisipasi harus dilakukan sejak sekarang, bukan saat krisis sudah terjadi,” pungkas anggota DPRD Jatim dari Daerah Pemilihan (Dapi) Tuban - Bojonegoro.

BACA JUGA:Komisi D DPRD Jatim Nilai Kebijakan WFH Momentum Bangun Budaya Hemat Energi


Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur menunjukkan ancaman yang tidak bisa dipandang remeh. Sebanyak 815 desa di 222 kecamatan pada 26 kabupaten berpotensi terdampak kekeringan. Bahkan, sekitar 410 ribu kepala keluarga diperkirakan terancam mengalami krisis air bersih.

Kondisi ini diperparah dengan prediksi musim kemarau yang lebih panjang, suhu udara yang meningkat tajam, serta curah hujan yang sangat minim. Jika tidak diantisipasi, dampaknya bisa merembet ke sektor pangan dan mengganggu stabilitas Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Wilayah Madura menjadi titik paling rawan, terutama di Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Bangkalan. Sementara di daratan Jawa, Kabupaten Bojonegoro juga diprediksi mengalami dampak signifikan.

BACA JUGA:Fraksi PKB DPRD Jatim Sampaikan Duka Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Tak hanya itu, daerah lain seperti Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek hingga kawasan pantura seperti Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Tuban masuk dalam status siaga kekeringan.

Pemprov Jatim melalui BPBD sejauh ini telah melakukan pemetaan wilayah rawan, menyiapkan distribusi air bersih melalui mobil tangki, serta mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air.

Kategori :