SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID-Program Dismorning di channel YouTube Energi Disway kembali menyuguhkan diskusi yang sarat makna.
Tayangan yang disiarkan live setiap pagi pukul 05.00 bersama Dahlan Iskan itu, pada edisi Jumat, 3 April 2026 mengangkat topik yang pernah menjadi cita-cita besar Indonesia: memiliki mobil listrik nasional.
Dalam obrolan santai bersama moderator Heraldha Savira (Caca), Dahlan Iskan mengulas sosok Dasep Ahmadi. Pria yang akrab disapa Kang Dasep itu disebut sebagai salah satu figur penting di balik pionir pengembangan mobil listrik di Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, Dahlan menegaskan bahwa gagasan besar menghadirkan mobil listrik nasional sekitar 15 tahun lalu ternyata belum mendapat tempat.
Ia pun mengenang masa-masa sulit ketika masyarakat Indonesia belum banyak yang percaya pada teknologi tersebut.
BACA JUGA:Dahlan Iskan: Advokat dan Wartawan Perlu Dialog Terbuka Soal Etika Profesi
Mini Kidi Wipes.--
Padahal, di saat negara lain belum serius menggarap mobil listrik, Dahlan bersama Kang Dasep, Ricky Elson, dan beberapa tokoh lain yang kemudian dikenal sebagai Pandawa Limo justru sudah memulainya lebih dulu.
Mereka berupaya menciptakan mobil listrik buatan dalam negeri, salah satunya mobil Ahmadi yang dikembangkan oleh Kang Dasep.
Namun perjalanan itu tidak berjalan mulus. Alih-alih mendapatkan dukungan, proyek tersebut justru dianggap tidak nyata. Bahkan muncul anggapan bahwa mobil listrik adalah sesuatu yang “tidak ada”.
Situasi ini tidak hanya berhenti pada kritik, tetapi berkembang hingga berujung pada kriminalisasi. Kang Dasep pun harus menjalani hukuman penjara selama 10 tahun.
Jika ditinjau dari sudut pandang industri, langkah yang diambil saat itu sebenarnya sangat logis. Dahlan mengibaratkan industri mobil bensin seperti lomba maraton. Jepang sudah berada di garis finis, sementara Indonesia bahkan belum memulai.
Gempur Rokok Ilegal -----
Dalam kondisi tersebut, sangat sulit bagi Indonesia untuk bersaing di teknologi mobil bensin. Dahlan pun sempat heran mengapa saat itu masyarakat justru lebih antusias terhadap mobil Esemka berbahan bensin yang dipopulerkan Joko Widodo.
Menurut Dahlan, satu-satunya cara untuk mengejar ketertinggalan adalah dengan berpindah ke arena baru, yakni mobil listrik. Pada saat itu, seluruh negara masih berada di titik awal dalam pengembangannya.
Ibaratnya, kalau dalam lari marathon, Indonesia belum tertinggal jauh dengan negara lain yang sama-sama saat itu masih coba mengembangkan.
Uji coba mobil listrik buatan Kang Dasep yang diberi nama Ahmadi pun sempat menjadi perhatian publik. Kendaraan tersebut berhasil menempuh perjalanan dari Depok menuju Jakarta sebelum akhirnya berhenti di kawasan Sudirman karena baterai habis, hanya beberapa kilometer dari tujuan.
Peristiwa itu kemudian banyak dipersepsikan sebagai kegagalan. Banyak yang menyebut mobil tersebut “mogok”, padahal secara teknis mobil listrik tidak mengenal istilah tersebut. Yang terjadi hanyalah kehabisan daya.
Di balik itu semua, ada fakta penting yang kerap terlupakan: Indonesia sebenarnya sudah mampu mengembangkan mobil listrik sejak lebih dari satu dekade lalu.
Hal yang paling mengesankan bagi Dahlan adalah sikap Kang Dasep. Setelah menjalani masa penjara, ia tidak berhenti berkarya. Ia tetap berpikir, terus berinovasi, dan mempertahankan jati dirinya sebagai ilmuwan. Bahkan sempat membuat paten soal teknologi baterai mobil listrik di dalam penjara.
Kini fokusnya bergeser ke pengembangan teknologi baterai. Bahkan, ia berhasil merancang desain baterai yang lebih sederhana dan telah memperoleh paten internasional di Swiss.
Bagi Dahlan Iskan, di situlah makna sebenarnya. Ide tidak bisa dipenjara. Tekanan, hambatan, hingga ketidakadilan tidak akan mampu mematikan pemikiran seorang inovator.
Pembahasan selengkapnya bisa Anda saksikan di channel YouTube Energi Disway. Jangan lewatkan juga Dismorning yang tayang live setiap pagi bersama Dahlan Iskan.(*)