Menurutnya, upaya menurunkan stunting harus dikerjakan secara kolaboratif lintas sektor.
“Penurunan stunting ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Tidak bisa hanya pemerintah daerah, tidak cukup Dinas Kesehatan, tidak cukup KBPPPA, dan tidak bisa hanya perusahaan. Ini harus kolaboratif,” tegasnya.
BACA JUGA:Muscab PKB Gresik Hasilkan 6 Bakal Calon Ketua, Kandidat Akan Jalani Tes Akademik
Ia juga mengingatkan agar seluruh program yang dijalankan benar-benar berorientasi pada dampak.
“Target utama kita adalah penurunan stunting. Program boleh banyak, relawan boleh banyak, tapi kalau tidak berdampak, itu yang harus kita evaluasi,” ujarnya.
Mengusung tema “Rukun Desane, Guyub Wargane, Ambalas Stuntinge”, Cargill menekankan bahwa stunting merupakan persoalan kolektif. Penanganannya membutuhkan keterlibatan warga, dukungan pemerintah, peran sektor swasta, serta penguatan organisasi sosial di tingkat desa.
BACA JUGA:Kisah Inspiratif Wiwik Sagita, dari Panggung Gresik Menuju Takhta Ratu Oplosan dan Panggung Nasional
Pendekatan tersebut sejalan dengan agenda nasional penurunan stunting menuju Indonesia Emas 2045 yang menargetkan prevalensi stunting sebesar 5 persen. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), pemerintah menetapkan target jangka menengah prevalensi stunting sebesar 14,2 persen pada 2029.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting nasional tercatat menurun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Di Kabupaten Gresik, angka stunting juga menunjukkan penurunan dari 15,4 persen menjadi 15,2 persen.
BACA JUGA:Respons Cepat Aduan 'Cak Rama', Polres Gresik Gerebek Karaoke di Cerme Sita Puluhan Botol Miras
Namun, menurut Cargill, tren penurunan tersebut tidak boleh dibaca secara terlalu optimistis.
“Angka hanyalah satu sisi dari persoalan. Di lapangan, tantangan perubahan perilaku dan kesenjangan akses layanan masih nyata,” ujar Adi.
Hasil pelaksanaan program di enam desa menunjukkan bahwa stunting berkaitan erat dengan pengetahuan orang tua, pola asuh, serta kondisi sosial ekonomi.
BACA JUGA:Arus Balik, 1.628 Warga Bawean Mulai Menyeberang ke Gresik
Di Kecamatan Manyar, banyak orang tua bekerja di sektor industri sehingga waktu pengasuhan terbatas. Sebagian lainnya merupakan pendatang yang belum sepenuhnya terhubung dengan layanan kesehatan dan mekanisme sosial desa. Keterbatasan pemahaman mengenai gizi seimbang bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan remaja putri juga masih ditemukan.
Karena itu, program CSR Cargill sejak 2022 hingga 2026 lebih menitikberatkan pendekatan promotif dan preventif melalui edukasi dan peningkatan kapasitas, dibandingkan intervensi kuratif.