PAGI itu seharusnya penuh kebahagiaan.
Aroma opor dan ketupat memenuhi rumah. Takbir masih terngiang dari semalam. Bulan mengenakan baju terbaiknya, mencoba tersenyum di depan cermin meski matanya terlihat lelah.
“Mas, sudah siap?” tanyanya pelan.
Mini Kidi Wipes.--
Bintang mengangguk singkat. Wajahnya datar, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu penuh semangat menyambut Hari Raya.
Mereka berangkat bersama, seperti keluarga lain. Salat Id, saling bersalaman, mengucapkan maaf. Semua berjalan seperti tradisi yang sudah diulang setiap tahun.
Namun tahun ini terasa berbeda.
Ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai di antara mereka.
Di ruang keluarga, setelah semua orang berkumpul, satu kalimat sederhana justru menjadi awal dari segalanya.
“Mas, maaf lahir batin ya,” kata Bulan sambil menunduk, mencium tangan suaminya.
Bintang tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu berkata pelan, “Iya.”
Tidak ada hangat. Tidak ada pelukan.
Bulan merasakan ada yang hilang, tapi ia menahan diri. Ia tidak ingin merusak suasana hari yang seharusnya suci.
Namun luka tidak pernah benar-benar peduli dengan waktu.
Siang itu, ketika tamu mulai berdatangan, salah satu kerabat berkata tanpa sadar, “Bintang, kemarin aku lihat kamu di mall sama perempuan. Siapa?”